Berita Karangasem

Kekeringan dari Karangasem, Jarang Mandi, untuk Minum pun Susah

Wayan Potag, warga Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk membeli air.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Istimewa
KEKERINGAN - Anak-anak bermain kejar-kejaran mengitari mobil tangki yang memasok air ke Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Selasa (31/10). Cadangan air di cubang sudah mengering. Dasar bak penampungan pun sudah terlihat. Tahun ini, kekeringan begitu terasa.  

TRIBUN-BALI.COM - Cadangan air cubang sudah habis. Dasar bak penampungan itu mengering. Tahun ini, kemarau begitu panjang. Sebagian warga membeli, sebagian menunggu kiriman air pemerintah. Mereka sampai jarang mandi, bahkan untuk minum pun susah.

Wayan Potag, warga Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk membeli air. Warga Desa Ban sekarang kian sulit mendapat air bersih. Mereka yang hidup dengan tingkat ekonomi pas-pasan patungan membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kekeringan, kata dia, sebenarnya memang rutin terjadi setiap tahun. Namun kali ini beda, berlangsung begitu lama. Apalagi saat ada acara keagamaan, pengeluaran mereka membengkak karena banyaknya kebutuhan air.

"Kalau yang  ekonominya menengah ke atas biasanya beli sendiri, tak ikut patungan. Sebenarnya ini rutin terjadi tiap tahun. Cuma tahun ini musim kemarau panjang," demikian ungkap Wayan Potag, Selasa (31/10).

Perbekel Ban, Gede Tamu Sugiantara mengatakan, warga yang mengalami kekeringan tersebar di 15 banjar. Kata dia, yang terparah yakni di Banjar Belong, Bonyoh, dan Cucut. Air bersih per tangki dihargai berbeda tergantung medan jalan yang dilalui.

Baca juga: Sudah Bisa Buang Sampah ke TPA Suwung, Pemkot Denpasar Sewa 15 Truk Pengangkut

Baca juga: Budiawan Sudah Incar Korban 5 Hari, Curi Kartu ATM, Kuras Rp 10 Juta lalu Serahkan ke Istri

KEKERINGAN - Anak-anak bermain kejar-kejaran mengitari mobil tangki yang memasok air ke Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Selasa (31/10). Cadangan air di cubang sudah mengering. Dasar bak penampungan pun sudah terlihat. Tahun ini, kekeringan begitu terasa. 
KEKERINGAN - Anak-anak bermain kejar-kejaran mengitari mobil tangki yang memasok air ke Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Selasa (31/10). Cadangan air di cubang sudah mengering. Dasar bak penampungan pun sudah terlihat. Tahun ini, kekeringan begitu terasa.  (Istimewa)

Contohnya di Banjar Cucut, harga air per tangki bisa mencapai Rp 200 ribu dengan jumlah lima meter kubik. Di Banjar Bonyoh per tangki mencapai Rp 300 ribu. Sedangkan di Banjar Belong bahkan tembus di harga Ro 400 ribu per tangki

"Warga patungan membeli air dengan keluarganya atau tetangganya. Air yang dibeli cukup memenuhi kebutuhan untuk beberapa hari. Ya tergantung pemakaian. Sekarang warga kami sangat irit memakai air karena kemarau panjang," tuturnya.

Ia mengatakan, untuk warga yang tak mampu membeli air bersih, mereka menumpang pada kebaikan tetangga. Pilihan lainnya, sabar kiriman air dari BPBD Karangasem atau pihak desa ."Kami juga sudah menganggarkan pengadaan air dari  APBDes. Nominalnya cuma Rp 20 juta," jelasnya.

Krisis air bersih juga terjadi di Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem. Dari 2.452 kepala keluarga (KK), warga yang kesulitan air mencapai 850 KK. Krisis air tidak hanya terjadi di wilayah perbukitan, namun sudah merambah ke wilayah bawah.

Perbekel Seraya Timur, Made Pertu mengatakan, warga yang mengalami krisis air bersih tersebar di lima banjar, yakni Banjar Tanah Barak, Bukit Catu, Tiinjalas, Gili Selang, dan Tukad Buah. Jumlahnya mencapai 1.600 jiwa.

Warga yang tinggal di wilayah atas bahkan tak bisa membeli air karena medan ke tempat tinggal mereka tak terjangkau kendaraan. Bahkan mereka susah mencari air hanya untuk minum. "Kekeringan di Seraya Timur semakin parah," kata dia.

Warga harus jalan kaki menaiki dan menuruni bebukitan untuk mendapat satu jeriken air bersih. Jarak tempuh ke mata air terdekat sejauh lima kilometer. "Satu  jeriken air bisa dipakai beberapa hari untuk minum. Mereka sekarang jarang mandi. Air bekas mandi diberi ternak," kata Pertu.

Kepala BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa mengatakan, pihaknya telah mendistribusikan 115 ribu liter terhitung dari 25 Agustus hingga 29 Oktober 2023. Pendistribusian diprioritaskan di daerah bebukitan seperti Seraya Timur dan Seraya Tengah, Kecamatan Karangasem. Kemudian Desa Ban, Kecamatan Kubu dan Desa Datah, Kecamatan Abang. (saiful rohim)

 

 

 
 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved