Berita Buleleng

Padi Gagal Panen, Cabai Layu dan Mati, Kemarau Panjang Memukul Habis Para Petani

Musim kemarau akibat dampak fenomena El Nino menyebabkan 6,7 hektare lahan padi di Buleleng mengalami gagal panen.

TRIBUN BALI/SAIFUL ROHIM
MENEKAN KERUGIAN - Petani cabai di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem memanen lebih awal karena tanaman mereka rusak, Selasa (31/10).  

TRIBUN-BALI.COM - Musim kemarau akibat dampak fenomena El Nino menyebabkan 6,7 hektare lahan padi di Buleleng mengalami gagal panen. Namun Dinas Pertanian Buleleng menyebut jumlah ini masih tergolong kecil.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Pertanian Buleleng, Suadnyana mengatakan, sejumlah sawah mengalami puso sejak Agustus dan terus terjadi hingga Oktober ini. Pada Agustus dilaporkan ada 4,20 hektare tersebar di beberapa subak di Kecamatan Sawan dan Seririt.

Selanjutnya pada September ada 1,99 hektare sawah mengalami puso yang juga terjadi di beberapa subak di Kecamatan Sawan dan Seririt. Pada Oktober ini ada 55 are lahan yang mengalami puso di di subak wilayah di Kecamatan Sukasada. "6,7 hektare ini tergolong puso berat, gagal panennya rata-rata diatas 75 persen dari total lahannya," kata dia, Selasa (31/10).

Bagi Suadnyana, gagal panen ini tergolong kecil karena luas lahan tanam padi di Buleleng mencapai 14 ribu hektare. Bagi petani yang sawahnya mengalami puso, ia menyebut pemerintah tidak dapat memberikan bantuan atas kerugian yang dialami karena tidak ada anggaran yang disediakan untuk hal tersebut.

Baca juga: Kekeringan dari Karangasem, Jarang Mandi, untuk Minum pun Susah

Baca juga: Sudah Bisa Buang Sampah ke TPA Suwung, Pemkot Denpasar Sewa 15 Truk Pengangkut

Kata dia, pemerintah sejatinya memiliki program Asuransi Usaha Rabu Padi (AUTP) yang bisa diikuti oleh petani, dengan premi yang dibayar tergolong cukup murah yakni Rp 34 ribu per hektar per satu kali masa tanam. Dengan asuransi tersebut, petani yang mengalami gagal panen hingga 75 persen akan mendapat klaim pengganti kerugian biaya operasional Rp 6 juta per hektare.

Untuk mengantisipasi jumlah sawah yang mengalami puso kian bertambah, Suadnyana pun mengimbau kepada petani untuk beralih ke tanaman palawija atau sayur-sayuran. Hanya saja masih banyak petani yang enggan mengikuti imbauan tersebut lantaran untuk menanam palawija dibutuhkan modal dan biaya yang lebih tinggi.

Sementara itu, ratusan petani yang tergabung di Subak Sambangan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng tidak bisa menanam padi. Hal ini terjadi lantaran krisis air akibat musim kemarau berkepanjangan.

Sedangkan petani cabai di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem juga gagal panen karena kemarau panjang. Pertumbuhan cabai tidak bagus, daunnya layu dan berguguran. Selain itu batangnya menguning.

"Bulan kemarin sempat panen beberapa kali. Setelah itu tiba-tiba pohon cabai layu mengering. Banyak petani terpaksa melakukan panen lebih awal untuk menekan kerugian," kata Nengah Kari, petani asal Desa Bungaya. (rtu/ful)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved