Nyamuk Wolbachia Cegah DBD

Lihadnyana Tegaskan Belum Ada Telur dan Nyamuk Mengandung Wolbachia yang Disebar di Buleleng

Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana tegaskan belum ada telur maupun nyamuk mengandung wolbachia yang disebarkan di Buleleng

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ngurah Adi Kusuma
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Pj Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana. Lihadnyana Tegaskan Belum Ada Telur dan Nyamuk Mengandung Wolbachia yang Disebar di Buleleng 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana tegaskan belum ada telur maupun nyamuk mengandung wolbachia yang disebarkan di Buleleng

Sebab hingga saat pihaknya masih menunggu kebijakan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. 

Ditemui Kamis (16/11), Lihadnyana menyebut pihaknya tidak akan merilis telur maupun nyamuk mengandung wolbachia, sampai adanya kebijakan resmi dari pemerintah pusat.

Ia pun tidak memungkiri beberapa waktu lalu, program yang diinisiasi oleh World Mosquito Program (WMP) ini sempat disosialisasikan di Buleleng. 

Baca juga: Pungli Pada Fast Track Imigrasi Ngurah Rai, Menparekraf Sandiaga : Akan Kita Tindak Tegas

Namun dalam perkembangannya, hingga saat ini belum ada kebijakan, instruksi ataupun rekomendasi dari Kemenkes RI terkait penerapan metode wolbachia untuk menanggulangi penyakit DBD. 

“Jika belum ada kebijakan resmi dari pemerintah pusat, kami tidak mau menerapkannya,”

“Apalagi ini menyangkut nyawa manusia. Jangan main-main. Pemerintah harus melindungi masyarakatnya,” katanya. 

Lihadnyana pun mengaku akan segera menginstruksikan seluruh Perbekel dan petugas kesehatan di Buleleng untuk tidak melaksanakan metode penyebaran nyamuk mengandung wolbachia ini di wilayahnya masing-masing, sampai turunnya kebijakan resmi dari pusat. 

Disinggung terkait tingginya kasus DBD di Buleleng setiap tahunnya, Lihadnyana menyebut akan melakukan program-program promotif dan preventif secara berkesinambungan untuk penanganannya. 

Baca juga: 2 Pesawat Tempur Sempat Hilang Kontak, Ditemukan Jatuh di Kawasan Gunung Bromo, 4 TNI Jadi Korban?

Seperti mengimbau masyarakat untuk menerapkan 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup) serta mengoptimalkan petugas jumantik dan petugas kesehatan. 

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng I Gede Artamawan saat ini kasus DBD di Buleleng mulai menurun. 

Pada 2020 lalu, jumlah DBD sempat mencapai 3.502 kasus hingga membuat Buleleng berada di peringkat kedua di Indonesia atas kasus DBD. 

Kemudian pada 2021 menurun menjadi 1.152 kasus, pada 2022 menjadi 865 kasus, sementara pada Januari hingga Oktober 2023 sebanyak 720 kasus. 

“Tahun ini jumlahnya 720 kasus, astungkara tidak ada yang sampai meninggal dunia. Mudah-mudahan tidak terjadi penambahan kasus lagi,” katanya. (rtu)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved