GWK Bali
GWK Bali Bangun Pagar Tembok Tutupi Akses Jalan Warga, Nyoman Nuarta Angkat Bicara
Nyoman Nuarta menceritakan perjalanannya membangun patung GWK, yang idenya digagas pertama kali oleh Nuarta pada tahun 1989.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Seniman pendiri patung GWK Cultural Park, I Nyoman Nuarta, angkat bicara menanggapi mengenai dibangunnya pagar tembok yang menutupi akses jalan warga Banjar Adat Giri Dharma Ungasan.
Nyoman Nuarta menyampaikan tidak tahu kenapa GWK membangun pagar tembok itu dan yang dilakukan oleh GWK bukan lagi wewenangnya karena kepemilikan sudah diambil alih pihak PT Alam Sutera Realty.
"Bahwa urusan tembok itu saya tidak tahu menahu karena zaman saya tidak ada itu. Saya tidak tahu dan memang saya tidak ikut (urusan GWK), tidak boleh ikut karena saya bukan pemilik lagi," ujar Nyoman Nuarta melalui sambungan telepon kepada tribunbali.com, Senin 29 September 2025.
Ia menambahkan bahwa dirinya mengorbankan kepemilikan GWK kepada investor dalam hal ini kini dimiliki sepenuhnya oleh PT Alam Sutera Realty Tbk. karena menginginkan pembangunan patung GWK rampung 100 persen.
Baca juga: Seminggu Rekomendasi Dikeluarkan, Dewan Nantikan Pembongkaran Tembok GWK Bali Hingga Pukul 12 Malam
"Saya korbankan yang penting jadi gitu (pembangunan patung GWK rampung 100 persen). Dan sekarang sudah jadi ikon nasional bukan Bali saja. Saya terus terang, itu kan sudah 7 tahun ya kita tidak terlibat di sana, sudah dilepas ke Alam Sutera," imbuhnya.
Saat Nyoman Nuarta masih memegang kepemilikan GWK disampaikannya bahwa saat itu ada rencana membangun pagar, tapi pagar yang dimaksud berupa pagar besi agar binatang liar tidak bisa masuk area agar keamanan pengunjung terjaga.
Tetapi pembangunan pagar tidak dilakukannya karena keterbatasan modal dan tidak tahu menahu jika satu tahun terakhir dibangun pagar tembok tinggi oleh GWK hingga menutup akses jalan warga.
Selain itu, seingatnya bahwa jalan yang kini dibangun tembok pagar tersebut merupakan milik GWK dan bukan jalan umum, tapi saat pembangunan jalan itu digunakan sebagai akses jalan proyek pembangunan.
"Itu dulu memang punya kita (tanahnya GWK) kalau tidak salah, dan itu dulu jalan proyek tapi kalau itu terus kemudian jadi jalan pemerintah tidak tahu saya itu," ungkapnya.
Nyoman Nuarta memaparkan kembali ke belakang bahwa pembangunan patung GWK ini dibangun susah payah olehnya dan banyak ditentang berbagai pihak.
Di mana tanah seluas 60,7 hektar dengan sukarela dihibahkan 100 persen ke negara untuk dibangun patung GWK dan ia tidak bercita-cita secara pribadi ingin memiliki sepenuhnya GWK.
"Saya ingin memberikan kepada negara (penyelesaian pembangunan patung GWK sepenuhnya dilakukan pemerintah dan dikelola oleh pemerintah daerah) tapi setelah kita ajukan sampai sekian tahun tidak ada progres dari pemerintah. Seolah-olah pemerintah tidak peduli. Semuanya salah pengertian di kira itu adalah proyek pemerintah tapi bukan, itu proyek kita sendiri yang punya," papar Nyoman Nuarta.
Disampaikan lebih lanjut, bahwa memang dulu pemerintah sempat turut andil dalam proses pembangunan patung GWK namun dana yang diberikan berupa pinjaman dan telah dikembalikan pinjaman itu.
Lalu setelah diakuisisi oleh pihak swasta dalam hal ini PT Alam Sutera Realty, sudah tidak ada pinjaman ke bank pemerintah dan penyelesaian pembangunan sepenuhnya didanai oleh mereka.
Kemudian sekarang ramai dibilang itu (GWK Cultural Park) bukan milik orang Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Penampakan-pagar-dinding-tembok-yang-dibangun-manajemen-GWK.jpg)