Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

GWK Bali

Ditutup GWK, Sudah Setahun Warga Harus Pinjam Lahan Orang untuk Akses Keluar-Masuk

Sejumlah warga di Banjar Giri Dharma yang terisolasi akibat dibangunnya pagar tembok pembatas oleh GWK

Tayang:
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
TEMBOK - Penampakan pagar dinding tembok yang dibangun manajemen GWK menghalangi akses jalan warga, Kamis 26 September 2025. 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Sejumlah warga di Banjar Giri Dharma yang terisolasi akibat dibangunnya pagar tembok pembatas oleh GWK Cultural Park, terpaksa membuat akses sendiri melalui semak-semak lahan milik orang lain.

Sebelumnya mereka dapat dengan mudah melalui jalan akses keluar masuk menuju rumahnya, namun satu tahun terakhir terisolasi.

"Ini memang kita dari dulu kita keluar masuknya di sini. Nah sejak setahun lalu, saya tidak tahu kenapa itu kok ditutup jalan saya (gang masuk rumahnya dipagari dinding)."

Baca juga: Jalan yang Dibeton GWK Ternyata Milik Pemkab Badung, Diminta Dibongkar

"Jadi saya tidak punya akses untuk jalan keluar menuju ke jalan raya," ungkap Nyoman Tirta Yasa saat ditemui pada Kamis 25 September 2025.

Di mana gang menuju rumahnya selebar kurang lebih 5 meter kini tertutup dinding setinggi kurang lebih 2 meter.

"Karena gang saya ditutup, saya mau keluar lewat mana? Jadi kalau istilah Bali-nya kita karang kebobong namanya. Jadi kita tidak ada jalan keluar untuk menuju akses ke jalan raya," tambahnya.

Baca juga: VIDEO Hasil Temuan Awal BPN Bali Terkait Polemik Akses Jalan Warga yang Ditutup GWK

Ia menyampaikan bahwa awal pembangunan disampaikan investor akan memperhatikan warga sekitar kawasan untuk dapat berkembang.

Namun hal itu hanya isapan jempol belaka karena kini akses jalan ditutup dengan tembok oleh manajemen.

"Jadi kalau seperti ini, jangankan kita bisa meningkatkan taraf hidup perekonomian. Bagaimana kita bisa mengembangkan ekonomi kita, bagaimana kita bisa berusaha.?

"Kita kan tidak ada akses di sini. Akses jalan itu adalah yang utama untuk kita bisa hidup, untuk kita bisa bergerak, untuk kita bisa menghidupi diri sendirilah minimal," tutur Tirta Yasa menyayangkan dibangunnya pagar tembok pembatas menutupi akses jalan.

Baca juga: SEKDA Tegaskan Jalan Tak Boleh Dipagari! Ungkap Jalan Lingkar Timur GWK Milik Pemkab Badung

Ia kini harus berjalan kaki keluar masuk rumahnya dan menaruh sepeda motornya di lahan kosong milik orang lain selama satu tahun terakhir.

Tetapi sampai kapan harus seperti ini jika pemilik lahan membangun di lahan miliknya tentu sudah tidak ada lagi akses keluar masuk.

"Saya sementara saat ini keluar masuk jalan kaki, di sebelah itu miliknya orang juga. Kan tidak mungkin kita dikasih terus-terusan seperti itu jalan keluar. Jadi intinya ini harus dibuka seperti itu (bongkar dinding pagar pembatas)," ungkapnya.

Pihaknya bersama warga terisolasi lainnya pernah meminta langsung kepada manajemen GWK untuk membuka akses jalan itu tetapi jawabannya akan dikoordinasikan dulu.

Namun selama kurang lebih satu tahun berjalan, tidak ada upaya pembongkaran hingga akhirnya mereka mengadu ke DPRD Provinsi Bali didampingi Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa yang juga selaku Wakil Ketua DPRD Bali.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved