Pemilu 2024
RSUD Buleleng Siapkan Psikolog Klinis dan Psikiater untuk Caleg Stres
Pesta demokrasi Pemilihan Legislatif (Pileg) DPRD Buleleng akan dilaksanakan pada Februari 2024 mendatang.
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Pesta demokrasi Pemilihan Legislatif (Pileg) DPRD Buleleng akan dilaksanakan pada Februari 2024 mendatang.
Kemungkinan diperkirakan ada caleg yang stres dan depresi akibat kalah bertarung.
Apabila itu terjadi, RSUD Buleleng pun siap memberikan penanganan dengan menyiapkan tenaga psikolog klinis dan psikiater.
Baca juga: Hindari Provokasi, Penghasutan dan Ujaran Kebencian, Deklarasi Pemilu Damai di Kodim 1617/Jembrana
Dirut RSUD Buleleng dr Putu Arya Nugraha dikonfirmasi Senin (27/11/2023) mengatakan, pihaknya tidak menyediakan pelayanan khusus untuk caleg yang mengalami gangguan jiwa atau stres karena gagal dalam Pileg.
Namun jika kasus tersebut ditemukan, pihaknya pun siap memberikan penanganan mengingat RSUD saat ini sudah memiliki dua tenaga dari psikolog klinis dan psikiater.
"Kalau pasien datang tanpa rujukan bisa di poliklinik umum dulu, nanti dirujuk ke psikolog klinis atau psikiater. Kalau sudah bawa rujukan dari faskes primer, bisa langsung diarahkan sesuai rujukannya," jelas dr Arya.
Baca juga: Bupati Tamba Ajak Peserta Pemilu Adu Gagasan, Hindari Narasi Negatif Pemicu Konflik di Masyarakat
Peluang untuk sembuh bagi caleg yang stres atau depresi akibat gagal dalam Pileg dikatakan dr Arya cukup besar asalkan diberikan penanganan yang tepat.
Selama tidak menunjukkan gejala gaduh, gelisah dan agresif pasien pun tidak perlu dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli.
"Penanganan yang lama itu biasanya karena faktor genetik, tidak ada penyebab tiba-tiba menunjukan gangguan kejiwaan."
"Kalau akut karena penyebabnya jelas seperti kalah pileg, kehilangan pekerjaan, perceraian atau perundungan, penyembuhannya cepat, kalau penangannya bagus," terangnya.
Ditambahkan dr Arya pada tahun-tahun sebelumnya pihaknya tidak pernah menerima kasus caleg yang stres atau depresi karena kalah dalam Pileg.
Apabila ditemukan, dalam diagnosa pihaknya pun tidak mencatatnya karena kalah Pileg.
Pasien depresi atau stres biasanya hanya dicatat karena mengalami kecemasan yang disebabkan oleh rasa kecewa dan rasa takut.
"Diagnosanya tidak ditulis langsung karena kalah Pileg, hanya historisnya saja yang ditulis seperti itu. Tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada kasus seperti itu yang kami terima," tandasnya. (*)
Berita lainnya di Pileg 2024
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.