Berita Bali
Saat Tumpek Landep, Bukan untuk Memuja Kendaraan
Setiap enam bulan sekali umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Tumpek Landep merupakan perayaan tumpek pertama dalam satu siklus wuku.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap enam bulan sekali umat Hindu merayakan Tumpek Landep.
Tumpek Landep merupakan perayaan tumpek pertama dalam satu siklus wuku.
Tumpek juga merupakan pertemuan pancawara terakhir yakni Kliwon dengan saptawara terakhir yakni Saniscara atau Sabtu.
Baca juga: Kamis Pon Landep, Baik Buruknya Hari Ini 28 Desember 2023, Baik untuk Memulai Suatu Usaha
Sehingga Tumpek Landep dirayakan pada Sabtu Kliwon Landep.
Dan Tumpek Landep ini datangnya setiap enam bulan atau 210 hari sekali.
Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak mengatakan, Tumpek Landep merupakan pemujaan untuk Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Taksu atau Sang Hyang Pasupati.
Baca juga: Tumpek Wayang, Bupati Dana Ajak Forkompinda dan OPD Sembahyang di Pura Geria Gili Selang Seraya
"Dulu sering disebut jika landep bermakna lancip, untuk mengupacarai keris dan tombak," katanya Kamis, 28 November 2023.
Namun saat ini menurutnya, maknanya adalah ketajaman pikiran serta pembersihan Tri Sarira yang terdiri atas Stula Sarira, Suksma Sarira dan Antah Karana Sarira.
Selain itu, saat ini juga lumrah ditemui masyarakat mengupacarai kendaraan, komputer dan barang elektronik lainnya.
"Apakah salah? Tidak juga, karena itu adalah keyakinan umat kita," katanya.
Baca juga: Makna Tumpek Uye, Hari Pemuliaan Binatang
Namun upacara itu bukan berarti memuja kendaraan tersebut.
Melainkan memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar memberikan kekuatan sehingga alat tersebut bisa berguna dengan baik.
"Prinsifnya penajaman cita, budi dan manah. Memilah, memilih mana yang baik dan buruk," katanya.
Terkait persembahan, menggunakan banten pasupati.
Selain itu, juga semampu dan seiklas umat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/persembahyangan-tumpek-landep-di-bpbd-kota-denpasar.jpg)