Petani Tersambar Petir di Jembrana

Prosesi Pengabenan Korban Dilangsungkan 30 Januari, Nunas Baos & Ngulapin di TKP dilaksanakan Besok

Prosesi Pengabenan Korban Dilangsungkan 30 Januari, Nunas Baos & Ngulapin di TKP dilaksanakan Besok

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Fenty Lilian Ariani
zoom-inlihat foto Prosesi Pengabenan Korban Dilangsungkan 30 Januari, Nunas Baos & Ngulapin di TKP dilaksanakan Besok
Tribun Bali/ I Made Prasetia
Ipar korban, Ketut Sarya Widana saat menunjukkan foto korban semasa hidupnya di rumah duka wilayah Lingkungan Bilukpoh , Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Minggu 28 Januari 2024.

NEGARA, TRIBUN-BALI.COM - Ni Wayan Suriati (58), korban meninggal dunia tersambar petir di gubuk tengah sawah asal Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana bakal diupacarai Selasa 30 Januari 2024 mendatang.

Duwasa ayu atau hari baik proses pengabenan tersebut sesuai petunjuk dari Griya Agung Pasek Pergung, Jembrana.

Prosesinya bakal dilangsungkan hingga tingkat pengabenan saja.

"Kita dari pihak keluarga sudah mohon petunjuk ke Griya Agung Pasek Pergung Jembrana dan memperoleh duwasa dua hari lagi atau Selasa 30 Januari 2024 mendatang," kata Ipar korban, Ketut Sarya Widana saat dijumpai di rumah duka, Minggu 28 Januari 2024. 

Dia melanjutkan, prosesinya sendiri bakal dilangsungkan hingga tingkat pengabenan saja di setra desa adat setempat.

Kemudian prosesi ritual mesuugan atau nunas baos serta ngulapin di lokasi kejadian bakal dilakukan Senin 29 Januari 2024 besok. 

"Untuk nunas baos (mesuugan mendiang) dan ngulapin kita langsungkan besok. Hari ini masih persiapan. Kami mohon doa agar proses pengabenannya lancar," harapnya. 

Untuk diketahui, sosok korban Ni Wayan Suriati adalah perempuan kuat, hebat dan multi talenta.

Anehnya, pihak keluarga tak merasakan tanda-tanda apapun sebelum kepergian korban.

Baca juga: SOSOK Mek Yan Korban Tersambar Petir di Gubuk Sawah : Perempuan Tangguh dan Multi Talenta

Namun begitu, korban justru sempat berperilaku tak seperti biasanya kemarin (sebelum kejadian).

Salah satunya sempat meminta foto diiringi pose melambaikan tangan.

Menurut pantauan, sejumlah kerabat, keluarga hingga tetangga korban mulai melayat ke rumah duka.

Kepergian seorang ibu anak dua tersebut sangat dirasakan keluarga.

Sebab, tak lama sebelum peristiwa tersebut, suami korban telah meninggal.

"Kami di keluarga biasa-biasa saja. Artinya tidak ada pertanda apapun sebelum kejadian tersebut (sebelum korban tersambar petir)," kata salah satu keluarganya, Ketut Sarya Widana (58) saat dijumpai di rumah duka, Minggu 28 Januari 2024 siang. 

Dia melanjutkan, meskipun pihak keluarga tak merasakan tanda apapun, justru korban Ni Wayan Suriati yang menunjukkan perilaku tak biasa.

Menurut penuturan kawan petani, korban Mek Yan ini sempat meminta difoto dengan posisi berdiri lalu melambaikan tangan.

"Sempat minta foto dengan tangan melambai. Biasanya, mungkin sebelumnya beliau tidak pernah sampai seperti itu (meminta foto)," tutur Ketut Sarya sembari terheran-heran. 

Disinggung mengenai keseharian korban, pria yang merupakan ipar korban ini menuturkan almarhumah adalah sosok wanita yang kuat serta multitalenta.

Bagaimana tidak, Mek Yan tak pernah memandang pekerjaan apapun dan memiliki banyak skill semasa hidupnya.

Mulai dari petani semangka, kerap membuat upakara Banten, hingga ahli memasak.

"Multi talenta sekali. Apa saja dikerjakan, mulai dari jadi petani, membuat upakara Banten hingga memasak. Kadang beliau dipanggil sebagai juru memasak saat hajatan-hajatan di tetangga," kenangnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved