Bocah Tenggelam di DAM

Awalnya Mau Main Bola, Adi Malah Ajak Ketiga Temannya Berenang, Buka Baju Lalu Nyebur dan Tenggelam

Awalnya Mau Main Bola, Adi Malah Ajak Ketiga Temannya Berenang, Buka Baju Lalu Nyebur dan Tenggelam

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Putu Kartika Viktriani
Ist/Tribun Bali
Kolase foto proses evakuasi Adi (13) korban tenggelam di Tabanan dan tangis kedua orang tuanya pada 14 Februari 2024. 

“Korban dibawa ke Masjid Al Muhajirin,” bebernya. 

Tangis pilu kedua orang tua Adi, Wahyudi dan Istrinya pun pecah di TKP.

Orangtua Adi bocah korban tenggelam itu tidak tertahankan saat berada di atas TKP atau DAM Puskopad II Tukad Demung, Sanggulan Banjar Anyar Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

Tangis Ibu Korban Tenggelam Pecah Di TKP, dan dipeluk erat oleh suaminya atau bapak dari korban.
Tangis Ibu Korban Tenggelam Pecah Di TKP, dan dipeluk erat oleh suaminya atau bapak dari korban. (TRIBUN-BALI.COM / Made Ardhiangga Ismayana)

Pantauan Tribun Bali, tangis ibu Adi tak tertahankan ketika menginjak TKP.

Ibunya didampingi dua orang rekannya, yang mencoba menenangkannya.

Kemudian, bapak korban juga ditemani oleh temannya dituntun dan menenangkannya.

Namun, kesedihan tidak dapat dibendung oleh keduanya.

Ibu Adi ketika bertemu sang suami pun langsung menangis dan menanyakan kenapa bapak korban tidak menyuruh anaknya pulang.

“Kenapa gak disuruh pulang, pak. Kenapa Adi gak disuruh pulang,” sembari menangis, kemudian suami atau bapak Adi memeluk ibunya.

Di bagian lain, dari informasi yang digali di lapangan, bahwa memang TKP tempat korban tenggelam sudah tidak pernah dipakai renang oleh warga sekitar.

Salah seorang warga, Matius mengatakan, bahwa yang dominan atau banyak ke DAM Psukopad II Tukad Demung, Perumahan Sanggulan Banjar Anyar itu adalah pemancing. 

Cukup jarang digunakan bagi orang yang berenang.

Tim SAR melkaukan pencarian di TKP Bocah 13 Korban tenggelam Tukad Demung tepat di DAM Puskopad II. (TB/ Angga)
Lain halnya, ketika lima tahunan lalu yang mana lokasi tersebut masih bisa digunakan oleh warga untuk berenang.

“Kalau sekarang gak ada si Bli (kakak dalam bahasa Bali). Renang dulu lima tahunan lalu kalau sekarang banyaknya orang mancing,” aku Matius.

Matius menjelaskan, bahwa ketika dahulu, arus tidak sebesar saat ini dan luasan sungai tidak sebesar sekarang.

Sehingga, masyarakat tidak lagi menggunakan Tukad Demung untuk renang.

Apalagi, tidak lama, sepengetahuan dia, bahwa memang ada kejadian orang mancing juga tenggelam.

“Ada dengar-dengar orang motas juga katanya tenggelam. Dulu bisa renang karena dulu tidak selebar ini sungainya. Sekarang lebih besar arus pun kuat,” bebernya. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved