Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Profil

Sosok Cok Sawitri Semasa Hidup, Bergelut dengan Teater dan Berkesenian Sejak Kecil

Budayawan, sastrawan dan pemain teater Bali, Cok Sawitri atau pemilik nama lengkap Cokorda Sawitri berpulang pada Kamis 4 April 2024.

Tayang:
Dokumentasi BBB/Kadek Warnata
Cok Sawitri semasa hidup 

Sosok Cok Sawitri Semasa Hidup, Bergelut dengan Teater Saat Masa Kecil, Pergi dengan Damai Saat Masih Terlelap

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Budayawan, sastrawan dan pemain teater Bali, Cok Sawitri atau pemilik nama lengkap Cokorda Sawitri berpulang pada Kamis 4 April 2024.

Cok  Sawitri dikenal sebagai seorang pemain teater yang selalu tampil totalitas di atas panggung.

Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968.

Baca juga: Cari Bibit Seniman Muda Lewat Lomba Baleganjur

Selain bermain teater, ia juga menulis cerita pendek (cerpen), novel, puisi dan menulis esai.

Puisi yang telah diterbitkan, di antaranya; Rainbow, 18 Indonesia Women Poets (2008), Kumpulan Puisi: Nyanyian Kota, 7 Perempuan Penyair  Indonesia (CCF, 2006) dan edisi bahasa Perancis, Selendang  Pelangi, antologi puisi 17 Perempuan Penyair Indonesia (2006), Teh Ginseng, Kumpulan Puisi bersama Sanggar Minum Kopi Bali (1992), Negeri Bayang-Bayang, Antologi bersama Puisi, Geguritan & Cerpen (1996), Kumpulan Buku Seniman Tua Bali Kabupaten Gianyar (1996), dan 7) Buku Puisi, Setahun Kematian, Semilyar Nyanyianku Mati, Kiamatku Dalam Jarak 3 Centimeter (2013) penerbit Indie.

Karya cerpen Cok Sawitri juga sudah diterbitkan, seperti Cerpen “Mati Sunyi” dalam Sepi pun Menari di Tepi Hari: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2004 (2004).

Baca juga: Dua Seniman Bali Tularkan Ilmu 4 Gerakan Seni Kepada Mahasiswa Sebagai Refleksi Kritis

Selanjutnya cerpen “Rahim” dalam Mata Yang Indah: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2001 (2001).

Dirinya juga menerbitkan novel di antaranya Janda dari Jirah, Gramedia Media Utama, tahun 2007 yang telah meraih lima besar Khatulistiwa Award dan telah diterjemahkan The Widow Of Jirah.

Kemudian novel Sutasoma, terbit Juni 2009, dan meraih lima besar Khatulistiwa Award serta penerima Dharmawangsa Award 2010. Tantri, Perempuan yang Bercerita, terbit 2011, Kompas, masuk lima besar Khatulistiwa Award.

Baca juga: Pembukaan Denpasar Festival ke-16 Libatkan 2.548 Seniman, Ada Rejang Massal

Novel Karna- E-book, Penerbit Tantraz Comics tahun 2016. 50 Novel Sitayana- 2019, Gramedia Pustaka Utama. Novel Trilogi Jirah, 2021. Deep Inner Journey, 2021.

Di tahun 2022, ia mendapatkan penghargaan Bali Jani Nugraha Tahun 2022 dari Pemerintah Provinsi Bali. 

Masa Kecil

Perempuan berdarah biru yang terlahir di keluarga Jro Gede Sidemen, Karangasem ini, memiliki masa kecil yang menyenangkan dan memengaruhi kehidupannya saat ini.

Ia pun telah bergelut dalam dunia teater sejak kecil dan semua itu diawali dari kebiasaan menari Bali, matembang dan kegiatan seni tradisional lainnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved