Berita Bali

Niluh Djelantik: Perempuan Bali Berhak Mendapatkan Ruang Yang Sama di Ruang Publik

Niluh Djelantik: Perempuan Bali Berhak Mendapatkan Ruang Yang Sama di Ruang Publik

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Fenty Lilian Ariani
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Foto bersama narasumber Talkshow bertajuk 'Perempuan di Ruang Publik' dengan CEO Indolinen pada Jumat 5 April 2024 

Ni Luh Djelantik, menegaskan bahwa perempuan Bali berhak mendapatkan ruang yang sama di segala lini dan bidang di ruang publik layaknya kaum pria. 

Dalam budaya yang patriarki ini, perempuan Bali tidak boleh dibelenggu gender ketika mengambil peran-peran krusial.

"Untuk mencapai ini, perlu dukungan dari dalam diri sendiri dan lingkungan kita (perempuan) tanpa melupakan kewajiban kita sebagai perempuan," ucap Niluh Djelantik.

Secara khusus di dunia politik, Niluh Djelantik berharap di lini perundang-undangan ada dukungan konkret terhadap peranan perempuan

Misalnya dengan mengubah regulasi 30 persen tingkat keterwakilan calon perempuan di Pemilu Anggota Legislatif (Pileg) menjadi tingkat keterpilihan.

Sementara itu, Lenny Hartono mengungkapkan, Kartini masa kini ditandai dengan sosok perempuan yang tangguh, multi tasking, dan bijak. 

Namun, perempuan harus tetap menjaga kondrat yang melekat bersamanya.

"Kartini masa kini itu tangguh dan bisa multi tasking karena kita secara bersamaan menjadi ibu rumah tangga dan pebisnis. Akan sulit membagi waktu dan prioritas. Tapi, kita harus jadi Kartini yang bijak, yang bisa menjalankan semua ini dengan adil dan bisa bermanfaat bagi orang banyak," papar Lenny Hartono.

Disisi lain, sosok Kartini masa kini di mata Echa Laksmi adalah seorang pelopor yang ada di barisan depan.

Sama seperti kaum pria, perempuan juga bisa berkontribusi dalam hal mempelopori pelestarian budaya sesuai kapasitas masing-masing.

Sebagai jebolan Seni Tari ISI Denpasar, Echa berada di barisan depan dalam hal melestarikan seni tari tradisional Bali dan Nusantara. 

Namun, ia juga paham dengan tabiat generasi sekarang yang dekat dengan teknologi dan seni tari modern.

Aspek-aspek yang sesuai dengan kekinian ini dikombinasikan untuk mempromosikan tari tradisional yang mampu menjangkau generasi muda.

"Sebagai perempuan, bagaimana kita bisa melestarikan kebudayaan leluhur. Sebagai perempuan bisa kok bergerak, mencintai, mempelajari, dan melestarikan budaya tanpa gengsi," ucap Echa.

Sebagai perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh perempuan, IndoLinen menunjukkan eksistensinya dalam membina dan mendukung peningkatan peran perempuan di ruang publik. 

Hal ini terwujud dari sebagian besar karyawan IndoLinen yang merupakan kaum perempuan dan memegang jabatan penting dalam pengambilan keputusan dan pengembangan bisnis dalam IndoLinen. 

IndoLinen terus berusaha untuk meningkatkan kapasitas dan skill karyawan perempuan agar dapat lebih berdaya baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved