Pilkada 2024
Koster dan Giri Prasta Berebut Rekomendasi PDIP di Pilgub, Pengamat: Stabilitas Vs Daya Tawar Baru
Koster dan Giri Prasta dinilai sama-sama memiliki daya tarik yang perlu dipertimbangkan matang oleh DPP PDIP.
Penulis: Ida Bagus Putu Mahendra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Juga bak “antitesis” kebijakan Koster bagi sejumlah pemilih yang mencari perubahan.
“Di sisi lain, tak kalah juga Giri Prasta menawarkan daya elektorasi yang tinggi juga memberikan energi penawaran politik yang tak bisa diabaikan serta resonan dengan pemilih yang mencari perubahan,” imbuhnya.
Sehingga, DPP PDIP disebut akan menghadapi dilema dalam menentukan rekomendasinya.
Wayan Koster, pandang Efatha, menawarkan kestabilan namun dengan risiko elektoral tertentu. Sementara Giri Prasta, menyuguhkan daya tawar baru.
“PDIP akan menghadapi dilema klasik antara memilih kandidat yang memiliki elektabilitas tinggi atau kandidat yang mungkin menawarkan potensi stabilitas yang lebih substansial namun dengan risiko elektoral yang lebih besar.”
“Memilih antara kestabilan yang ditawarkan oleh Koster atau potensi daya tawar baru dari Giri Prasta,” ungkapnya.
Tentu, yang akan mendapat rekomendasi dikatakan sosok yang memiliki peluang kemenangan paling tinggi.
Ditambah lagi, PDIP perlu berhati-hati pasca kekalahan Capres-Cawapres usungannya saat Pilpres Februari 2024 lalu di Bali.
Keputusan soal rekomendasi, dikatakan kembali berada di tangan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Hal itu, disebut Efatha dengan istilah Tweedisme yang di mana keputusan terbesar berada di tangan ketua umum.
Hal minornya, PDIP juga akan mempertimbangkan rekomendasi berdasarkan referensi jejak digital, hingga hasil survei internal maupun eksternal kedua sosok tersebut.
“Keputusan PDIP akan sangat dipengaruhi oleh Ibu Megawati mengingat PDIP adalah partai dengan corak ideologis yang kuat fenomena ini disebut dengan Tweedisme bahwa keputusan besar nantinya akan tergantung dari ketua partai.”
“PDIP pasti akan memperhatikan juga jejak digital, hasil survei internal partai dan lembaga eksternal serta analisis dinamika sosial-politik di Bali,” pungkas pengamat politik Universitas Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte, S.IP., M.Sos.
Kumpulan Artikel Pilkada
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.