Pilkada Bali 2024
KIM Usung Mantra-Mulia di Pilgub Bali, Pengamat Soroti Efek Anti-Inkumbensi hingga Endorsement
Dosen Prodi Ilmu Politik itu memandang, pasangan Mantra-Mulia dapat memanfaatkan efek anti-inkumbensi dalam manuver politiknya.
Penulis: Ida Bagus Putu Mahendra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Koalisi Indonesia Maju (KIM) ditambah NasDem dan PKB di Bali sepakat mengusung pasangan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-Made Muliawan Arya (De Gadjah) pada Pilgub Bali mendatang.
Hal ini disampaikan oleh De Gadjah yang juga Ketua DPD Gerindra Bali usai menggelar rapat konsolidasi di The Brass Bali, Jumat 24 Mei 2024.
Menanggapi hal ini, pengamat politik Universitas Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte, S.IP., M.Sos. menyoroti sejumlah hal.
Mulai dari efek anti-inkumbensi, popularitas di media sosial, hingga adanya “endorsment” dari dua sosok penting yakni Presiden Joko Widodo dan Presiden RI terpilih Prabowo Subianto.
Baca juga: DPW NasDem Bali Ikut KIM di Pilkada, Kader Membelot Terancam Disanksi
Dosen Prodi Ilmu Politik itu memandang, pasangan Mantra-Mulia dapat memanfaatkan efek anti-inkumbensi dalam manuver politiknya.
Efek ini, kata Efatha, dapat terjadi bila pemilih merasa tak puas dengan pemerintahan sebelumnya dan menginginkan perubahan.
Sebagai pasangan yang akan melawan petarung dari PDIP yang merupakan partai petahana, pasangan Mantra-Mulia dikatakan dapat “menjual” ketidakpuasan publik terhadap kebijakan dan kinerja petahana.
“Pasangan ini dapat menonjolkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan dan kinerja inkumben sebagai alasan untuk memilih mereka. Dengan menggarisbawahi isu-isu kegagalan kebijakan, atau kurangnya inovasi, mereka dapat menarik pemilih yang menginginkan perubahan nyata,” ungkapnya saat dihubungi Tribun Bali, Sabtu 25 Mei 2024.
Pasangan Mantra-Mulia, dikatakan Efatha memiliki simpati yang baik di media sosial.
Hal ini, dapat memudahkan mereka dalam menggodok strategi kampanye.
Kendati demikian, Efatha menuturkan penerimaan yang baik di media sosial tak selalu mencerminkan keadaan di lapangan.
Sehingga, hal tersebut dikatakan bak jebakan yang dapat merugikan pasangan Mantra-Mulia.
“Tetapi dukungan juga bisa menjadi jebakan jika terlena. Kehadiran dukungan media sosial yang kuat tidak selalu mencerminkan kemenangan peta politik. Serta dukungan nyata di lapangan dan kader militan yang siap menjadi mesin kemenangan,” jelasnya.
Hal lain yang disorotinya, yakni soal “endorsement” dari Presiden Joko Widodo dan Presiden RI terpilih Pemilu 2024 Prabowo Subianto.
Efatha memandang, kemungkinan pasangan Mantra-Mulia mendapat “restu” dari dua sosok tersebut.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.