PKB 2024
Gong Kebyar Wanita Paguyuban Seni Swarna Gianyar Pukau Penonton di PKB XLVI
Penampilan Gong Kebyar Wanita Paguyuban Seni Swarna Gianyar diawali dengan Tabuh Kreasi Sunari
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Gong Kebyar Wanita Duta Kabupaten Gianyar, Paguyuban Seni Swarna Gianyar unjuk gigi pada parade Gong Kebyar Wanita diajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI Tahun 2024 di Panggung Terbuka Ardha Candra, UPTD. Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 18 Juni 2024 malam.
Gong Kebyar Wanita Paguyuban Seni Swarna Gianyar bersanding dengan Komunitas Budaya Sanggar Seni Baswaram, Duta Kabupaten Klungkung dan Sanggar Seni Manik Manggis, Duta Kabupaten Karangasem.
Istimewanya, penampilan Gong Kebyar Wanita disaksikan langsung oleh Pj Bupati Gianyar I Dewa Tagel Wirasa bersama jajaran.
Ini sebagai bentuk dukungan semangat kepada Duta Bumi Seni Gianyar yang tampil.
Baca juga: Kisah Dolangan hingga Kasih Ibu dan Ayah, Duta Klungkung Nyakcak Panggung Ardha Candra Pada PKB 2024
Penampilan Gong Kebyar Wanita Paguyuban Seni Swarna Gianyar diawali dengan Tabuh Kreasi Sunari yang terinspirasi dari “Sunari”, bambu panjang dengan tujuh lubang yang bentuk segitiga, bulat, bulan sabit, tegak lurus, lesung, swastika dan lubang paling bawah berbentuk segi empat.
Keragaman bentuk lubang mampu menghasilkan suara yang indah menyentuh dan merangsang kebangkitan aktivitas ketujuh cakra pada manusia.
Karya seniman I Ketut Cater dan Dewa Putu Berata.
Dilanjutkan dengan penampilan Tari Kreasi Kanyaka Sura, yang menggambarkan keelokan dan keanggunan para bidadari kahyangan, yang ikut membantu pasukan Dewa Indra pada saat menyerang Mayadanawa.
Gerak tari yang rytmis dan indah memadukan dua karakter yaitu karakter laki dan perempuan, menjadikan tarian ini memiliki kekhasan dan jati diri sebagai sebuah tarian kreasi baru, ciptakan oleh Ibu Tjokorda Istri Putra Padmini dan I Wayan Darya.
Penampilan ditutup dengan Tari Sandyagita Pangkah Pongah yang menggambarkan perilaku umat manusia saat ini yang cenderung terlepas dari jati diri ke-Bali-an umat Hindu Bali, yang menimbulkan kegamangan warga untuk menemukan sosok panutan yang mampu menata napas kehidupan budaya yang kian terkikis.
Masyarakat terhegemoni oleh sikap perilaku manusia yang terlalu berani melabelkan diri sebagai sosok yang harus disegani dan dipuji sebagai manusia unggul penuh wibawa.
Penampilan sosok seperti ini ibarat sinar kunang-kunang yang gemerlap tampilkan warna-warni keindahan yang menyesatkan yang disajikan dengan konsep berbeda, dengan memadukan gerak tari dan teatrikel musik nyanyian yang khas dengan napas tradisi yang luluh lebur dalam nuansa pop kekinian, karya seniman I Wayan Darya. (*)
Kumpulan Artikel Gianyar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.