Berita Gianyar
Tak Ada Jalan Luput Dari Kemacetan Di Ubud, MTI Bali Usul Batasi Jam Truk Besar
berdasarkan catatan Tribun Bali, Minggu 30 Juni 2024, dari mobilitas pariwisata ini, ada hal yang dikorbankan. Yakni, kenyamanan lalu lintas
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Padatnya aktivitas lalu lintas, selama ini menjadi salah satu indikasi dari perputaran ekonomi.
Bercermin dari pandemi Covid-19 pada tahun 2020-2022, lancarnya lalu lintas, membuat perekonomian mati.
Sebab, masyarakat Ubud yang sebagian besar bekerja di bidang jasa, sangat bergantung dari mobilitas wisatawan.
Dari lalu lalang kendaraan yang mengangkut wisatawan, restoran menjadi hidup, vila, hotel dan akomodasi pariwisata di Ubud menjadi laku, ada 'dolar' yang masuk, menghidupi pekerjanya, yang dari pekerja, 'dolar' tersebut akan berputar kembali ke masyarakat lewat transaksi harian, mingguan dan bulanan.
Baca juga: VIRAL! Ambulans Disetop Karena Rombongan Jokowi Lewat, Angkut Lansia Sakit, Salahi SOP Lalu Lintas!
Namun berdasarkan catatan Tribun Bali, Minggu 30 Juni 2024, dari mobilitas pariwisata ini, ada hal yang dikorbankan. Yakni, kenyamanan lalu lintas.
Lalu lintas di Ubud saat ini macet parah.
Bahkan untuk menyeberang jalan dengan berjalan kaki saja, dengan lebar jalan hanya 10 meter, bisa menghabiskan waktu lima menit.
Sebab, harus menunggu lalu lintas lengang.
Saat ini, hampir di semua jalanan di Ubud, padat lalu lintas.
Mulai dari Jalan Raya Sayan - Kedewatan, Jalan Raya Tjampuhan - Jalan Raya Ubud, Jalan Raya Andong - Jalan Raya Peliatan, Jalan Raya Teges - Jalan Raya Mas - Jalan Raya Kengetan, Jalan Raya Lodtunduh - Jalan Raya Pengosekan - Jalan Raya Nyuh Kuning.
Jalan tersebut merupakan jalan-jalan utama di Kecamatan Ubud.
Namun, kemacetan di Ubud ini jauh lebih parah lagi.
Sebab kemacetan juga telah masuk ke jalan-jalan perkampungan.
Karena itu, kemacetan di tahun 2024 ini, telah menyentuh hampir setiap jalan di Kecamatan Ubud.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali, Made Rai Ridharta menjelaskan, kemacetan di Ubud bisa dilihat secara internal dan eksternal.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.