Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Gianyar

ANGIN Kencang di Pantai Gumicik Gianyar Bali, Nelayan Pilih Tak Melaut!

Bahkan, karena angin yang cukup kencang melanda pesisir Gianyar, menyebabkan para nelayan tidak melaut sejak sebulan ini.

ISTIMEWA
Suasana pagi Pantai Gumicik, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Krisis iklim yang berdampak pada cuaca ekstrem, menyebabkan tantangan profesi nelayan semakin kompleks.

Biasanya mereka tidak melaut hanya di musim hujan, karena gelombang air laut tinggi. Dan, biasanya kondisi cuaca masih bisa diprediksi. Namun saat ini, kondisi cuaca tidak menentu.

Bahkan, karena angin yang cukup kencang melanda pesisir Gianyar, menyebabkan para nelayan tidak melaut sejak sebulan ini.

Seperti yang dilakukan oleh para nelayan di Pantai Gumicik, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.

Baca juga: TERUNGKAP Sosok yang Tinggalkan Koper di Penarungan, Kenakan Celana Pendek dan Ikat Kepala

Baca juga: Putu Parwata Dukung Kegiatan FPMHD-Unud Pada Diklat Yang Dilaksanakan di Badung

Berdasarkan informasi dihimpun, Rabu 10 Juli 2024, di Pantai Gumicik, sedikitnya ada 75 orang nelayan.

Saat ini, mereka memilih mencari pekerjaan lain. Sebab kondisi angin dan ombak yang tidak bersahabat. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai akhir Agustus nanti.

Namun bagusnya, di tengah tak bersahabatnya kondisi gelombang. Laut masih mengasihani keluarga nelayan Pantai Gumicik.

Laut 'membuang' banyak batu apung ke pesisir pantai. Oleh para nelayan, batu apung tersebut pun dikumpulkan untuk dijual.

Pemerhati Nelayan Pantai Gumicik, Wayan Puja mengatakan, batu apung yang terdampar di pesisir, dikumpulkan oleh ibu-ibunya nelayan.

"Mereka memungut batu apung di pagi hari, setelah memungut lalu kembali ke rumah aktivitas rumah tangga," ujar Puja.

Lebih lanjut dikatakan, batu apung tersebut dikumpulkan dalam karung beras untuk dijual per kilogram ke pengepul.

Di mana untuk per kilogramnya, batu apung ini dihargai Rp 5.000, dan biasanya mereka menjualnya saat terkumpul 10 kilogram atau satu karung. Dan rata-rata mereka bisa mengumpulkan dua karung per hari.

"Ini berkah dari alam, tiap pagi berserakan di pantai dan kadang-kadang Ibu-ibu tersebut sambil memunguti sampah plastik," jelas Puja.


Dikatakan lagi, bahwa pungutan batu apung tersebut legal, karena dibawa oleh laut dan kalau dibiarkan justru akan mengotori pantai.

Pihaknya tak tahu sampai kapan berkah batu apung tersebut datang ke Pantai Gumicik. Diperkirakan terjadi sampai berakhir masa angin kencang dan gelombang yang terjadi saat ini.

Sementara para lelaki yang tidak melaut, kata Puja, mereka beralih prosesi, seperti menjadi undangk dan pekerja lain yang menghasilkan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved