Berita Bali

NEKAT Akhiri Hidup Jadi Atensi, Mendaki Sembuhkan Gangguan Mental, Ini Kampanye Freedom Summit III

Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa Mental Healthcare, I Wayan Eka Sunya Antara, mengungkap fakta yang memprihatinkan di mana angka bunuh diri tinggi.

Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi mayat - Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa Mental Healthcare, I Wayan Eka Sunya Antara, mengungkap fakta yang memprihatinkan di mana angka nekat akhirin hidup alias bunuh diri di Bali menjadi yang paling tinggi di antara daerah lainnya di Indonesia. 

TRIBUN-BALI.COM - Bali Bersama Bisa Mental Healthcare (BBBMH), menggelar pendakian gunung Freedom Summit III. Ini sebagai upaya mengurangi tingkat bunuh diri dan gangguan mental yang tinggi di Bali.

Mengingat aksi nekat akhiri hidup di Bali, belakangan kian meresahkan. Freedom Summit III merupakan ekspedisi pendakian gunung terbesar di Indonesia, yang akan mendobrak batasan tantangan pendakian gunung sekaligus mengembangkan sumber daya kesehatan mental di Bali.

Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa Mental Healthcare, I Wayan Eka Sunya Antara, mengungkap fakta yang memprihatinkan di mana angka nekat akhiri hidup alias bunuh diri di Bali menjadi yang paling tinggi di antara daerah lainnya di Indonesia.

Baca juga: ASMARA Jadi Pemicu Tewasnya Mangku Tawan, Pelaku Gelap Mata Akhiri Hidup Korban di Kolam Air Hangat

Baca juga: NEKAT Akhiri Hidup, Dikenal Tertutup & Jarang Curhat, Tulis Pesan Tuhan Aku Capek ke Diri Sendiri

Freedom Summit - Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa Mental Healthcare, I Wayan Eka Sunya Antara akan menggelar pendakian gunung Freedom Summit III sebagai upaya mengurangi tingkat bunuh diri dan gangguan mental yang tinggi di Bali.
Freedom Summit - Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa Mental Healthcare, I Wayan Eka Sunya Antara akan menggelar pendakian gunung Freedom Summit III sebagai upaya mengurangi tingkat bunuh diri dan gangguan mental yang tinggi di Bali. (Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro)

"Faktornya orang bunuh diri adalah karena ketiadaan support system, orang menstigma diri sendiri mencari tahu informasi melalui media sosial tanpa asesmen mendalam. Mereka ini hanya butuh didengarkan," jelas pria yang karib disapa Bimbim ini, Rabu (31/7).

Ia menuturkan setiap pekan yayasan yang dinaunginya menangani sebanyak 300 konseling orang yang terindikasi gangguan mental. Separuh di antaranya berisiko bunuh diri. Sedangkan setiap bulannya berkisar 1.000 lebih orang membutuhkan penanganan.

"Gangguan mental itu faktor utama trauma masa lalu, kedua stres, kemudian faktor ekonomi. Mayoritas memang dari Bali, tapi ada juga daerah lain seperti Surabaya, Medan, dan Jakarta," tuturnya.

"Situasi saat ini di mana Bali termasuk wilayah tertinggi isu kasus bunuh diri, jadi disini akarnya yang harus bisa diefektifkan bagaimana menyediakan tempat mereka, mental health itu tidak perlu diarahkan," jelasnya.

"Mereka hanya perlu didengarkan, jauhkan dari stigma, diskriminasi, jika sudah merasa aman mereka akan bercerita lalu bantu rangkul untuk menemukan jalan keluar, baru obat, psikologi, konseling, penanganan sebelum kembali ke masyarakat," jabarnya.

Lanjut dia, 60 sampai 70 orang yang mengidap gangguan mental hingga risiko bunuh diri ini adalah perantau dari luar daerah meski terdapat pula warga lokal Bali. Dari segi pekerjaan, gangguan mental didominasi golongan karyawan perusahaan.

"Jadi mereka ini yang dari luar kota memiliki ekspektasi untuk merubah hidup. Kalau dari segi profesi adalah karyawan perusahaan, karena tekanan kerja, tekanan bos, waktu kerja, deadline, waktu istirahat yang kurang, menjadi trigger, lalu stres," ujar dia.

"Perantau kan rata-rata tidak ada support keluarga secara langsung di luar daerahnya, jadi itu yang membedakan, kalau Bali sendiri ada keluarga, sosial budaya yang menjadi support system," sambungnya.

Penanganan mental health tidak hanya pada individu yang bersangkutan, tetapi juga keluarga juga perlu diberikan psikoterapi dalam memperhatikan mental health untuk maintenance, merawat kondisi mental seseorang.

Sementara untuk kasus Warga Negara Asing (WNA) terdapat 10 persen di antaranya, untuk kasus WNA, yayasan berkoordinasi dengan pihak konsulat. Oleh sebab itu, dalam upaya menurunkan angka risiko bunuh diri, BBBMH mengadakan Freedom Summit III untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dengan perjuangan keluar dari sebuah kondisi.

"Kenapa gunung, karena pendakian memberikan kesembuhan, dengan melihat pepohonan, kicauan burung matahari pagi warna sunrise, itu bisa membantu kesehatan mental dan sangat mendukung, selain itu juga mereka bisa berkomunikasi, membangun relasi, karena kembali lagi kasus bunuh diri karena mereka tidak tahu kepada siapa mereka berbagi," ujarnya.

Freedom Summit III dibagi dalam tiga divisi. Peserta melakukan pendakian tiga gunung meliputi Gunung Agung, Gunung Abang, dan Gunung Batur untuk Divisi Satu. Kemudian Divisi Dua terdapat dua gunung yang didaki yakni Gunung Abang dan Gunung Batur.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved