Pilkada 2024

Petahana Terlalu Kuat dan Sulit Dilawan, Di Balik Banyaknya Calon Tunggal Pilkada 2024

Namun realitanya petahana terlalu kuat dan dominan sulit untuk dilawan. Partai-partai memilih realistis dan pragmatis.

Kompas.com
BERI KETERANGAN - Dosen Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, Titi Anggraini, saat memberi keterangan. 

TRIBUN-BALI.COM  - Mayoritas calon tunggal dalam Pilkada Serentak 2024 adalah petahana. Artinya jumlah pilkada dengan calon tunggal masih tinggi meski Mahkamah Konstitusi (MK) telah melonggarkan ambang batas pencalonan sepekan sebelum pendaftaran bakal pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"(Calon tunggal Pilkada 2024) Didominasi petahana kepala daerah, petahana wakil kepala daerah, atau kerabat petahana," kata pakar hukum kepemiluan dari Universitas Indonesia, Titi Anggraini, Senin (2/9).

Namun realitanya petahana terlalu kuat dan dominan sulit untuk dilawan. Partai-partai memilih realistis dan pragmatis. "Kalau tidak punya kader yang mumpuni, habis babak-belur, habis uang, habis tenaga, habis Pemilu 2024," ujar dia.

Baca juga: Pensiunan PNS Jagal Anjing Lima Ekor! Jualan Sejak 2021, Tertangkap Saat Mengolah

Baca juga: Sandiaga Uno Usul 20 Negara Dapat Bebas Visa! Pemberian Berdasar Urutan Tingkat Kunjungan Turis

Titi memberikan contoh kasus di Papua Barat dan Surabaya, di mana pasangan petahana kepala daerah dan wakilnya kembali maju bersama pada Pilkada 2024 di wilayah masing-masing.  

Di Papua Barat, pasangan Dominggus Mandacan-Mohamad Lakotani berhasil mengantongi dukungan dari semua partai politik.

Sementara itu, duo kader PDIP, Ery Cahyadi-Armuji juga kembali berpasangan untuk Pilkada di Surabaya. Contoh lainnya terdapat di Brebes, Jawa Tengah, dimana Paramitha Widya Kusuma-Wurja belum memiliki pesaing dan berpotensi melawan kotak kosong pada 27 November nanti.

"Paramitha anggota DPR, memang bukan petahana, tapi setelah ditelusuri bapaknya adalah petahana, Bupati Brebes 2002-2010. Jadi di sana ternyata relasi petahana itu tetap dominan," kata Titi.

Di Sumatera Utara, terdapat enam calon tunggal di tingkat kabupaten/kota yang semuanya memiliki hubungan dengan petahana.

 "Satu adalah petahana wakil bupati yang maju sebagai calon bupati Asahan karena bupatinya maju menjadi cawagub. Ada juga satu petahana wakil bupati yang maju sebagai calon bupati di pilkada calon tunggal di Tapanuli Tengah," beber Titi.

"Si petahana bupati tidak maju lagi, tapi petahana wakil bupatinya maju dan berpasangan dengan mantan ketua DPRD yang maju sebagai calon bupatinya. Sementara pas dia mendaftar, mantan petahana bupati tetap mengantar. Jadi selalu ada relasi dengan para petahana," sambungnya.

Titi menyebutkan partai-partai politik telah merampungkan negosiasi dan lobi politik yang berakhir dengan kesepakatan koalisi mengusung calon tunggal sebelum putusan MK keluar. Namun, menghadapi petahana tetap menjadi tantangan besar.

"Itu yang membuat partai mengambil pilihan yang realistis dan pragmatis untuk mengusung calon tunggal yang tadi, punya latar belakang petahana, modal sosial serta modal politik yang kuat, dan tentu saja modal kapital," pungkasnya.

KPU RI menyatakan terdapat 43 daerah dengan bakal pasangan calon (paslon) kepala daerah tunggal sejak pendaftaran dibuka pada 27-29 Agustus 2024.

 Jumlah ini meningkat dari pilkada sebelumnya pada tahun 2020 yang hanya mencapai 25 calon tunggal. Meski begitu, secara persentase, angka ini menurun. (kompas.com)

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved