Berita Bali

Penderita Amputasi Kurang Akses Dapat Kaki Palsu, Yayasan Kaki Kita Buatkan Gratis Jika Tak Mampu

Namun jika di yayasan ada uang kas, maka akan langsung diberikan kaki palsu dengan meminta rekomendasi dari kantor desa tempat pasien tinggal.

istimewa
KAKI PALSU - Yayasan Kaki Kita saat memberikan bantuan kaki palsu. Yayasan ini berdiri dengan fokus perawatan luka diabetes, pembuatan kaki palsu hingga pemberdayaan penyandang disabilitas.  

TRIBUN-BALI.COM  - Yayasan Kaki Kita didirikan dengan fokus perawatan luka diabetes, pembuatan kaki palsu hingga pemberdayaan untuk penyandang disabilitas. Yayasan ini sudah ada sejak 2019.

“Fokus kami penyakit diabetes, sebab kelompok masyarakat yang lambat mendapatkan kaki palsu yakni kelompok rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Penderita amputasi kurang akses untuk mendapatkan kaki palsu,” ujar pendiri Yayasan Kaki Kita ditemui di Denpasar, I Made Aditiasthana, Kamis (26/9).

Untuk mendapatkan kaki palsu, pihak keluarga menghubungi yayasan melalui media sosial Instagram atau WhatsApp. Jika pasien diabetes merupakan pasien tidak mampu, maka akan dilakukan penggalangan donasi sesuai atas kesepakatan keluarga.

Namun jika di yayasan ada uang kas, maka akan langsung diberikan kaki palsu dengan meminta rekomendasi dari kantor desa tempat pasien tinggal.

“Di Tahun 2024 ini kami sudah beri 20 kaki palsu gratis di Buleleng, Denpasar, Jembrana. Kami juga kerja sama dengan rumah sakit,” bebernya.

Baca juga: Upaya Minimalisir Trek-trekan dan Balap Liar! Polisi Datangi Bengkel Tempat Modifikasi Sepeda Motor

Baca juga: Pelaku Penusukan di Desa Ban Luka Parah, Nyoman Tista Jalani Operasi di RSUD Karangasem

Adi mengatakan, kaki palsu permintaanya cukup banyak. Kalau jadi bisnis tentu saja hal ini sangat potensial. Hanya saja kebanyakan dari penderita diabetes adalah orang tidak mampu sehingga sangat sulit untuk mendapatkan kaki palsu.

Ia menjelaskan kaki palsu amputasi kasus diabetes berbeda dengan kaki palsu amputasi kasus kecelakaan. “Kalau anak kecil galang donasi lebih mudah terkumpul kalau lansia lebih susah. Setelah pembuatan kaki palsu, kami rehabilitasi untuk penggunaannya dan ini yang agak susah butuh waktu rehab sekitar dua sampai tiga bulan,” paparnya.

Selain berfokus pada perawatan luka diabetes dan pembuatan kaki palsu, juga terdapat pemberdayaan disabilitas dengan pekerjaan daur ulang sampah plastik menjadi barang komersial seperti tas, kacamata, dan berbagai jenis kerajinan lainnya.

"Yayasan Kaki Kita juga menyediakan kaki palsu untuk dijual pada korban kecelakaan dengan harga mulai dari Rp 6 juta. Sementara kaki palsu yang sudah diedarkan terbuat dari resin, fiber dan kulit," jelasnya.

Kaki palsu ini dibuat langsung oleh para penyandang disabilitas agar harganya bisa lebih murah dan perawatan lebih mudah. Dalam sebulan mereka bisa membuat enam kaki palsu. Kaki palsu ini sudah dikirim ke Kalimantan, NTT, Madura, Sulawesi, Padang, hingga Papua.

“Kami butuh donasi karena ini merupakan program sosial dan untuk unit usaha kami yang diperlukan pasar. Unit usaha karya disabilitas dari Yayasan kami seperti plastik kacamata, meja, kursi paling banyak furniture dan kerajinan,” paparnya. (sar)

 

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved