Gunung Agung Terbakar
AKSI Heroik 20 Pemandu Selamatkan WNA Saat Terkepung Api Kebakaran Hutan Gunung Agung
Untuk menyelamatkan WNA tersebut, sebanyak 20 pemandu lokal memutuskan naik ke puncak. Butuh waktu 16 jam untuk mengevakuasi WNA asal Jerman tersebut.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Dua warga negara asing (WNA) nekat mendaki Gunung Agung tanpa pemandu. Mereka summit dan bermalam di puncak. Saat akan turun, hutan di barat daya gunung kebakaran. Mereka terjebak asap, jalan pun tak terlihat.
Untuk menyelamatkan WNA tersebut, sebanyak 20 pemandu lokal memutuskan naik ke puncak. Butuh waktu 16 jam untuk mengevakuasi WNA asal Jerman tersebut. Pemandu dan bule itu tiba di bawah pada Senin malam.
"Ada dua WNA yang mendaki. Mereka tidak bisa turun karena terjebak kebakaran hutan. Karena takut, mereka memutuskan bermalam di puncak Gunung Agung," ujar I Gede Mundut, pemandu yang ikut melakukan evakuasi, Selasa (15/10).
Dua WNA tersebut mendaki pada Sabtu 12 Oktober 2024. Keesokan harinya saat akan turun, Gunung Agung kebakaran, mereka terjebak. Satu orang nekat turun memberi kabar kepada warga. Kemudian satu WNA yang masih tertinggal di puncak berhasil dievakuasi Senin kemarin.
Baca juga: WARUNG Remang-remang di Kegelapan Bypass Ida Bagus Mantra, Jajakan Alkohol Ditemani Wanita Seksi
Baca juga: Raffi Ahmad Dipanggil Presiden Prabowo, Dikabarkan Masuk Jajaran Kabinet, Dari Bali Belum Ada Nama!

Sebelum kebakaran, sudah ada larangan pendakian dari semua pos. Larangan ini berkaitan dengan Karya di Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir. Penutupan diberlakukan mulai 1 Oktober 2024 sampai 30 November 2024.
Mandut menceritakan dua pendaki ini kemudian membuat kesepakatan. Satu turun meminta bantuan dan satunya menunggu bermalam di puncak Gunung Agung. Saat tiba di bawah, WNA itu mengabarkan ada temannya masih berada di atas terkepung api yang membakar hutan.
"Wisatawan yang turun duluan ini yang melapor ke pemandu yang jaga di pos pintu masuk. Tamu ini khawatir temannya kenapa-kenapa karena di atas api masih menyala membakar hutan di sekitaran tempat mereka bermalam," ungkap pria asal Desa Besakih ini.
Kata dia, para pemandu bergegas menjemput ke atas dari jalur pendakian Pura Pengubengan. Tim memulai evakuasi pukul 06.00 Wita. Setelah melewati beberapa waktu perjalanan, mereka menemukan target sekitar pukul 11.30 Wita di puncak Gunung Agung.
Kemudian mereka kembali dan sampai di parkiran sekitar pukul 22.00 Wita. "Total waktu kami evakuasi sampai 16 jam dan tamu kami evakuasi dalam keadaan selamat. Walau tamu agak kelelahan karena total tiga hari berada di Gunung Agung," ungkap dia.
Mundut melihat di sepanjang jalur yang ia turunkan vegetasi Gunung Agung sudah terbakar. Namun ia bersyukur evakuasi berjalan lancar karena di sepanjang jalur pendakian itu api telah padam. "Sepanjang jalur pendakian yang kami lintasi, rumput, pepohonan sudah terbakar semua," kata Gede Mundut.
Kebakaran hutan berlokasi di lereng barat daya atau di titik ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi kebakaran berjarak sekitar empat hingga lima kilometer dari Pura Pengubengan.
Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa mengatakan, berdasarkan laporan warga, titik api sudah terpantau sejak Minggu sore dan terlihat jelas saat hari memasuki malam.
Untuk menuju lokasi dibutuhkan waktu empat jam dengan akses yang terjal. Hal ini yang membuat upaya pemadaman belum bisa dilakukan. "Upaya pemadaman belum dilakukan karena akses yang sulit menuju lokasi kebakaran, yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar empat jam," ujar dia.
Kata dia, kondisi cuaca panas di sekitar area kebakaran turut menambah risiko dan memperlambat penanganan. Dugaan sementara kebakaran dipicu percikan api di semak yang kering kemudian membesar karena tertiup angin.
"Sementara kami hanya melakukan pemantauan intensif dari Pura Pengubengan, yang berada di bawah area titik api sambil menunggu kondisi yang memungkinkan untuk langkah lanjutan," jelas dia.
Luas hutan yang terbakar di Gunung Agung sekitar 100 hektare. Ida Bagus Arimbawa mengatakan, dari hasil pemantauan diketahui ada enam titik api yang membakar vegetasi berupa pohon pinus, cemara, dan semak belukar. (eka mita suputra)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.