Pilkada Buleleng
Bayar Nazar, Diding Rela Jalan 89 Kilometer di Bali, Sebagai Wujud Syukur Jagoannya Menang Pilkada
bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 30 November 2024, Diding mulai membayar janji yang telah dia ucapkan.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Diding Kadir, pria asal Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini rela jalan kaki sejauh 89 kilometer.
Setapak demi setapak ia lakoni tanpa rasa penyesalan, sebab jagoannya berhasil memenangkan kontestasi Pilkada pada 27 November 2024.
Di Pilkada saat itu, Diding menjagokan Pasangan Calon (Paslon) Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Wayan Koster - Nyoman Giri Prasta, dan Paslon Bupati-Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra - Gede Supriatna.
Pada H-2 pemungutan dan penghitungan suara, Diding bahkan tak segan bernazar.
Baca juga: Sutjidra Menang di Pilkada Buleleng, Suyasa Bayar Sesangi Tuangkan Tuak di Tugu Singa Ambara Raja
Ia akan berjalan kaki dari perbatasan Kabupaten Buleleng - Jembrana, menuju kantor DPC PDI Perjuangan Buleleng di wilayah Desa Pemaron. Kurang lebih jaraknya sekitar 89 kilometer.
Hingga akhirnya hasil hitung cepat pada 27 November keluar. Paslon Koster Giri serta Sutjidra-Supriatna berhasil menang mengalahkan Paslon saingannya.
Bahkan dari pesaingnya juga sudah mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat pada Calon Kepala dan Wakil Kepala Daerah terpilih.
Alhasil, bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 30 November 2024, Diding mulai membayar janji yang telah dia ucapkan.
Ia berjalan dari Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak pukul 10.00 Wita, dilepas oleh Pimpinan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Buleleng dari perbatasan Jembrana-Buleleng.
Hingga akhirnya Diding tiba di DPC PDIP Buleleng pada tanggal 2 Desember, pukul 03.00 Wita.
Diding yang dihubungi melalui sambungan telepon menegaskan apa yang dia lakukan ini bukanlah mencari sensasi.
Sebaliknya ia rela bernazar jalan kaki sejauh 89 Kilometer lantaran jagoannya diprediksi kalah dalam Pilkada 2024.
"Banyak yang berpendapat tidak mungkin gubernurnya dari 02 (Koster - Giri). Tidak mungkin calon dari PDIP menang, karena di pusat PDIP tidak lagi berkuasa," ucapnya.
Hal inilah yang menumbuhkan rasa jengah dalam dirinya. Terlebih ia punya kedekatan dan kecintaan pada Nyoman Giri Prasta dan Supriatna, yang dinilai sangat all out untuk masyarakat Bali dan Buleleng.
"Keduanya tidak pernah membedakan suku, ras dan agama. Karena siapapun merupakan masyarakat beliau. Itulah yang membuat saya merasa jengah. Dalam hati saya mohon pada Tuhan agar orang tua saya menjadi pemimpin di Bali dan Buleleng," ujar pria 45 tahun itu.
Mengenai persiapan jalan kaki, Diding mengatakan ia tidak ada persiapan apapun.
Bahkan di tanggal 29 November, ia masih sempat bekerja seperti biasa sebagai sopir di perusahaan air mineral.
Dikatakan perjalanan yang paling berat adalah di hari pertama, terutama saat melewati areal hutan Desa Sumberklampok.
Di mana cuaca saat itu sangat panas pada siang harinya, dan sempat kehujanan saat tiba di Desa Pemuteran.
Namun pada hari kedua, perjalanan terasa lancar. Bahkan ia didampingi sejumlah pengurus. Baik dari PAC maupun organisasi Islam.
"Alhamdulillah dari anggota dewan, ranting PAC sangat mensupport dan perhatian. Saat itu saya dijamu untuk istirahat, ada anggota dewan Nyoman Mudita dan Anak Agung Ketut Widia yang memberi bantuan logistik. Seperti membelikan jas hujan, makan dan minum, bahkan mencarikan tukang pijat untuk melemaskan otot," ujarnya.
Diding mengatakan, apa yang dia lakukan ini sangatlah berkesan.
Diakui menjelang finish, kakinya terasa seperti tidak bisa digerakkan. Bahkan jelang menapakkan kaki di kantor DPC, ia hampir jatuh.
"Mungkin ini karena sangking senang, bahagia, dan bersyukurnya saya diberi kekuatan bisa finis dengan selamat. Saya berharap mudah-mudahan pemimpin Buleleng yang terpilih, bisa menjadi amanah dan menjadi kebanggaan Bali dan Buleleng pada khususnya," tandas Diding yang juga Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Bamusi Buleleng ini. (mer)
Kumpulan Artikel Pilkada Buleleng
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.