Pilkada Bali 2024

WOW Angka Golput di Bali Tembus 983 Ribu Lebih! KPU Sebut Target Optimistis 75 Persen

Bahkan jumlah Golput tersebut mengalahkan suara dari Pasangan Calon (Paslon) nomor 1 Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS).

ISTIMEWA
Ilustrasi - Bahkan jumlah Golput tersebut mengalahkan suara dari Pasangan Calon (Paslon) nomor 1 Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS). 

TRIBUN-BALI.COM  - Angka Golput di Bali saat Pilkada Bali 2024 sangat tinggi, menembus 983.556 pemilih.

Angka ini diperoleh dari rekapan C Hasil Salinan yang dirilis DPD PDI Perjuangan (PDI P) Bali dari 6.795 TPS atau 100 persen TPS yang ada di Bali dan bukan merupakan angka resmi yang dirilis oleh KPU Bali. 

Bahkan jumlah Golput tersebut mengalahkan suara dari Pasangan Calon (Paslon) nomor 1 Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS).

Dari data sementara diketahui, Paslon Mulia-PAS meraih 528.231 suara, Paslon 02 Wayan Koster-I Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri) meraih 1.41.284 suara. Sementara itu, Daftar Pemilih Tetap atau DPT yang dirilis KPU Bali sebanyak 3.283.893 orang.

Sehingga ada sebanyak 983.556 orang yang memilih Golput meskipun beberapa dari mereka datang langsung ke TPS. Maka dari itu, persentase Golput pada Pilkada 2024 ini mencapai 29,9 persen. Mengacu pada target KPU Bali terkait angka partisipasi pemilih minimal 75 persen pada Pilkada ini tak akan tercapai.

Baca juga: SAWER Rp100 Juta ke Fadly Faisal Usai Kalah Tinju, Aishar Khaled Malah Izin Minta Foto ke Fuji

Baca juga: INFLASI Hingga November 2024 Diprediksi Menjadi 1,77 Persen, Simak Alasannya 

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan.
Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan. (TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA)

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan saat dikonfirmasi menjelaskan, tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Bali 2024 baru bisa diketahui secara pasti usai rekapitulasi di tingkat kecamatan setelah 3 Desember 2024.

Meskipun begitu, dari hitungan awal KPU, beberapa daerah di Bali memiliki partisipasi pemilih di atas 75 persen. Di mana 75 persen merupakan target minimal dari KPU Bali untuk tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada ini. 

Namun ada juga beberapa daerah yang masih di bawah target minimal. “Hitungan kasar, tetapi belum angka pasti, ada yang di atas 75 persen,” kata John Darmawan.

Untuk yang di atas 75 persen yakni Kabupaten Gianyar, Badung, Bangli, dan Tabanan. Namun ada juga yang di bawah 60 persen.

Pihaknya pun akan melakukan evaluasi kenapa tingkat partisipasi bisa rendah. John Darmawan menduga hal itu dikarenakan beberapa daerah sempat diguyur hujan lebat pukul 08.00-10.00 Wita.

Sehingga hal itu kemungkinan bisa mengurangi antusias masyarakat ke TPS. Sedangkan untuk tingkat partisipasi terendah adalah Kota Denpasar, dengan hitungan kasar 57,9 persen.

“Itu baru hitungan kasar. Namun di Denpasar sebenarnya ada kenaikan 3 persen dibandingkan di Pilkada 2020 yang hanya 54 persen,” paparnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil hitung sementara, tingkat partisipasi masyarakat di Kabupaten Buleleng dalam Pilkada Bali 2024 belum bisa menembus angka 70 persen.

Bahkan tingkat partisipasi di Buleleng dalam Pilkada 2024 turun dibandingkan Pemilu 2024. Berdasarkan hasil sementara, tingkat partisipasi di Kabupaten Buleleng pada Pilkada Bali 2024, hanya sebanyak 64,7 persen.

Jumlah ini justru mengalami penurunan dibandingkan dengan Pemilu 2024, yakni 75,3 persen. 

Komisioner KPU Buleleng, Komang Dudhi Udiyana mengatakan, berdasarkan data sementara partisipasi terendah di tingkat Kecamatan ada di Kecamatan Kubutambahan dengan angka 56,3 persen. Sedangkan partispasi tertinggi berada di Kecamatan Gerokgak dengan angka 67 persen. 

“Angka tersebut (64,7 persen) masih bersifat sementara. Nanti setelah semua kecamatan selesai rekapitulasi, baru diketahui angka percisnya berapa. Karena partisipasi pemilih itu akan berada yang hadir di DPT ditambah DPK, atau sekarang namanya Daftar Pemilih Tambahan,” jelasnya. 

Sementara itu, Ketua KPU Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan menilai perlu dilakukan kajian mengenai hasil partisipasi ini. Sebab Buleleng seringkali dinilai sebagai juru kunci setiap hajatan Pemilu/Pemilukada.

“Buleleng dan Denpasar selalu menjadi juru kunci. Kita harus kaji berapa orang yang sebenarnya terdaftar pada DPT tetapi tidak pulang,” ucapnya. 

Lidartawan bahkan sempat tercetus ide, untuk menyediakan bus gratis. Sehingga warga Buleleng yang bekerja di luar mau pulang untuk ikut berpartisipasi dalam Pemilu/Pilkada.

“Saya minta teman-teman (KPU) Buleleng sediakan anggaran menggandeng universitas, untuk bisa mengkaji dan memberikan solusi biar partisipasi kita di Buleleng tidak di bawah,” tandasnya. (sup/mer)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved