Nyepi 2025

MAGIS & Metaksu! Ogoh-ogoh Tulak Tunggul STT Sentana Luhur Tampaksiring, Simbol Kritik Sosial

Ogoh-ogoh yang memiliki aura magis kuat dan metaksu, seolah-olah benar-benar hidup. Proses pengerjaan sangat detail dan filosofinya pun mendalam.

Tribun Bali/Ngurah Adi Kusuma
TULAK TUNGGUL - Warga memfoto dan berfoto di depan Ogoh-ogoh Tulak Tunggul karya Sekaa Teruna (ST) Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Tampaksiring, Gianyar, Rabu (26/3/2025). 

TRIBUN-BALI.COM - Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, selalu melahirkan Ogoh-ogoh terbaik setiap tahunnya menyambut Hari Suci Nyepi

Salah satunya Ogoh-ogoh Tulak Tunggul, karya Sekaa Teruna (ST) Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Tampaksiring.

Ogoh-ogoh Tampaksiring tahun ini, masih mengusung gaya klasik Bali. Ciri khas ogoh-ogoh di Tampaksiring adalah detail anatominya yang realistis dan tekniknya yang unik. Satu lagi selalu mataksu!

Pada Nyepi Caka 1947 ini, satu diantara Ogoh-ogoh terbaik di Tampaksiring yang menyita perhatian publik dan viral di media sosial adalah karya ST Sentana Luhur yang bernama Tulak Tunggul. 

Ogoh-ogoh yang memiliki aura magis kuat dan metaksu, seolah-olah benar-benar hidup. Proses pengerjaan sangat detail dan filosofinya pun sangat mendalam. 

Baca juga: TRAGEDI Kecelakaan Beruntun pada Antrean Arus Mudik, 4 Kendaraan Rusak Saling Seruduk di Jembrana!

Baca juga: KILAT! Hanya 3 Hari STT Suralaga Wangaya Kelod Garap Ogoh-ogoh Ulang Usai Kena Musibah Kebakaran!

Menurut kreator Ogoh-ogoh Tulak Tunggul, Mang Egik, Tulak Tunggul menjadi simbol keteguhan perlindungan dan persatuan yang memiliki makna mendalam di kehidupan ini.

Ia digambarkan sabagai pohon magis dengan kekuatan spiritual, pohon beringin yang menjaga identitas wilayah, serta menjadi cermin pemikiran dengan esensi persatuan dan keberagaman.

"Karakter magis Tulak Tunggul mempresentasikan entitas hidup yang menjadi penghubung manusia dengan kebijaksanaan alam," ujarnya kepada Tribun Bali, Rabu 26 Maret 2025.

Rwa Bhineda; Baik dan buruk, siang dan malam, matahari dan bulan, Subha-Asubha Karma; benar-salah, menjadi pelambang pohon beringin yang diselimuti kain poleng hitam-putih berbentuk kotak-kotak sebagai esensi dualitas kehidupan yaitu arti dari kata Tulak yang sekaligus merepresentasikan budaya yang menjadi pegangan teguh di bumi tercinta kita, Bali.

Upeksha; biarkan dirimu berada di tengah yang berarti menemukan ketenangan dan keseimbangan. Digambarkan dengan posisi duduk yang juga menjadi arti kekokohan pohon yang bertahan bertahun lamanya, dengan Ketu atau mahkota sebagai lambang keagungan.

Menuju ke Akar, yang menjadi metafora bagi persatuan pemikiran yang bercabang, dari berbagai sudut pandang yang tumbuh dalam satu batang kehidupan.

"Hal ini memiliki makna yang mendalam dibalik upaya kami sebagai generasi muda "Seka Teruna Teruni Sentana Luhur" yang ingin berkarya atas nama budaya. Berbagai perbedaan pendapat, karakter, sudut pandang yang kami miliki ingin kami satukan dalam arti kata Tunggul, yaitu akar sebuah pohon," ungkapnya.

Bali me-Nyepi. Hanya satu hari dalam satu tahun, Bali berani berhenti sejenak dengan tujuan netralisasi diri dari sifat Bhuta Kala dan energi negatif agar kehidupan kembali suci dan harmonis.

Pada akhirnya, Tulak Tunggul mengajarkan bahwa kekuatan sejati berasal dari Akar yang dalam, dan Kain Poleng yang berarti keseimbangan dalam perbedaan.

Ia bukan sekadar pohon, tetapi simbol perjalanan manusia dalam bertahan menjaga identitas, tradisi, menyatukan pemikiran, dan tetap di tengah derasnya arus zaman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved