Berita Bali
Garapan Baleganjur Margadarshakah Pedungan Viral, Jadi Backsound Velocity di TikTok
Gambelan baleganjur Bali berjudul Margadarshakah viral di Tiktok. Hal ini terkait munculnya tren velocity
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Garapan Baleganjur Margadarshakah Pedungan Viral, Jadi Backsound Velocity di TikTok
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Gambelan baleganjur Bali berjudul Margadarshakah viral di Tiktok.
Hal ini terkait munculnya tren velocity, yang membuat garapan pemuda Banjar Pitik, Pedungan, Denpasar, Bali ini kian dikenal.
Garapan ini kerap dijadikan backsound velocity.
Baca juga: VIDEO Viral Ajak Ngopi di Jalanan Saat Nyepi, Kini Klarifikasi dan Meminta Maaf
Menurut salah satu Komposer, Putu Gede Bramasta Yoga S.Sn yang juga anggota Sekaa Gong Gita Swara Dharma Kanti Banjar Pitik Desa Adat Pedungan Denpasar Selatan, sebenarnya karya ini dibuat oleh tiga orang yakni dirinya, Mangnik dan Wi Saras.
"Nah dan kebetulan gending ini viral pada bagian awalnya yang kebetulan tiang sendiri yang buat nika," papar Bramasta Yoga saat diwawancarai, Selasa, 1 April 2025.
Ide garapan itu menurutnya muncul secara spontan dan gending yang dihasilkan juga terinspirasi oleh musik Dj.
Baca juga: Makna Ogoh-ogoh Viral “Tulak Tunggul”, Simbolisasi Anatomi yang Tak Selalu Soal Kesempurnaan
"Dan juga kebetulan ritme dari garapan tersebut sudah pernah dipakai oleh kakak tiang yaitu I Made Subawa di banjar pada tahun 2016-an, kalau tidak salah," imbuhnya.
Lalu ritme garapan itu ia sempurnakan lagi dengan kemasan baleganjur ngarap.
Dengan suasana baru membuat mereka yang mendengarkan garapan ini tanpa sadar ikut menggerakkan tubuhnya.
Sementara untuk ide garapan, Margadarshakah berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna penuntun atau pengantar.
Baca juga: VIDEO Viral Ibu-Ibu Kesal Jalan Denpasar Bali Macet Karena Festival, Bikin Warganet Geram
Dan garapan ini diangkat dari kepercayaan masyarakat Hindu di Bali mengenai beras kuning (sekar ura) yang ditebar serta penggunaan Manuk Dewata (burung cendrawasih) dalam pelaksanaan upacara palebon, yang bertujuan sebagai penuntun dan penghantar sang mendiang menuju alam Nirwana.
"Terinspirasi dari beras kuning dan Manuk Dewata sebagai penuntun serta pengantar sang mendiang, memiliki kesamaan dengan tumpah ruah krama adat penyandang bade yang bahu-membahu, bergotong-royong mengantarkan dan menuntun sarira sang mendiang menuju tempat perabuan," katanya.
Karya ini pun merepresentasikan serta memberikan gambaran mengenai antusias krama adat dalam suatu prosesi palebon.
Dalam penggarapannya, ada 25 sampai 30 penabuh yang terlibat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sekaa-Gong-Gita-Swara-Dharma-Kanti-Banjar-Pitik-Desa-Adat-Pedungan.jpg)