Berita Bali
Mengenang I Gusti Made Peredi, Seniman Denpasar Bali dengan Warisan 2.617 Karya
Seluruh karya ini dibuat antara tahun 1956 hingga 2016, mencerminkan rentang panjang perjalanan artistik sang maestro.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sosok perupa legendaris asal Kota Denpasar, almarhum I Gusti Made Peredi, kini kembali dikenang melalui warisan seni yang begitu besar.
Sebanyak 2.617 karya seni miliknya berhasil didata dan dirawat oleh anak keduanya, I Gusti Ngurah Dwiana Putra.
Ribuan karya tersebut kini tersimpan rapi di kediaman almarhum yang beralamat di Jalan Mayor Wisnu, Gg. 1/6, Abasan, Desa Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali.
Karya-karya Peredi terdiri dari berbagai medium dan bentuk, antara lain 2.234 lembar sketsa, 39 lukisan kanvas hitam putih, 97 lukisan cat minyak di kanvas, 247 lukisan pastel kapur di atas kertas, serta satu lembar langse bergambar wayang.
Baca juga: Pesta Kesenian Bali 2025, Libatkan 19 Ribu Seniman, Tampilkan Karya Garapan Baru Pada Gong Kebyar
Seluruh karya ini dibuat antara tahun 1956 hingga 2016, mencerminkan rentang panjang perjalanan artistik sang maestro.
"Sejak Ajik tiada tahun 2022 lalu, saya mulai mendata dan mengumpulkan karya-karyanya. Medium yang digunakan sangat beragam, dari kapur, pastel, cat air, cat minyak, hingga tinta tradisional (mangsi). Media yang beliau pilih selalu mencerminkan fase hidupnya—masa kecil, masa kuliah, hingga usia senja," ujar Dwiana, Selasa 6 Mei 2025.
Gaya lukisan Peredi dikenal sangat kuat dengan napas pesisir, mencerminkan pengaruh wilayah tempat tinggalnya di pesisir selatan Bali.
Ia kerap melukis langsung di pantai-pantai seperti Kuta, Jimbaran, Nusa Dua, dan Benoa.
Tema-tema naturalis dan dekoratif menjadi ciri khasnya, dengan fokus pada panorama laut dan kehidupan masyarakat sekitar.
Namun tak hanya lanskap pesisir, Peredi juga dikenal dengan keahliannya dalam menggambarkan wayang dan bentuk-bentuk karangan tradisional Bali seperti karang guak, karang raksasa, karang gajah, serta tokoh-tokoh seperti rangda dan barong landung.
“Ajik menciptakan bentuk yang hidup dan khas, berbeda dari gaya klasik Kamasan karena beliau menyisipkan unsur anatomi dan pendekatan personal,” tambah Dwiana.
Meski tidak menempuh pendidikan formal seni, Peredi dikenal sebagai seniman otodidak yang kaya guru.
Ia belajar secara informal dari berbagai tokoh seni seangkatannya seperti I Gusti Ngurah Gede (Sidik Jari), Kasim, dan guru spiritualnya AA Rai Kalam.
Ia juga memiliki kedekatan dengan seniman-seniman besar seperti Ajik Suwandi dan Raka Pasta, yang turut mempengaruhi eksplorasi seninya.
Sikap Peredi terhadap seni juga sangat unik, ia tidak komersial, namun sangat bernyawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Mengenang-I-Gusti-Made-Peredi-Seniman-Denpasar-Bali-dengan-Warisan-2617-Karya.jpg)