Berita Bali
Mengenang I Gusti Made Peredi, Seniman Denpasar Bali dengan Warisan 2.617 Karya
Seluruh karya ini dibuat antara tahun 1956 hingga 2016, mencerminkan rentang panjang perjalanan artistik sang maestro.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Meskipun karyanya diminati hingga oleh kolektor luar negeri seperti dari Jerman, ia jarang sekali menjual karyanya.
Ia lebih memilih berpameran dalam ajang seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), dengan prinsip serupa seniman Ida Bagus Poleng yang menolak menilai karya dengan uang.
Selain sebagai seniman, Peredi juga dikenal sebagai pendidik dan penjaga tradisi banjar.
Ia pernah mengajar di tingkat SD hingga SMSR Batubulan, serta aktif membagikan ilmu seni kepada para pemuda di sekitarnya.
"Sekitar 70 persen pemuda di banjar belajar natah langsung dari Ajik," tutur Dwiana.
Ia juga sering membuat ornamen upacara seperti kober dan tangkeb rangda untuk griya dan banjar.
Lahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Peredi berasal dari keluarga seniman, di mana ayahnya seorang pengukir dan ibunya penenun.
Tradisi seni itu terus mengalir ke generasi berikutnya, termasuk Dwiana yang kini menjadi arsitek dan penerus pembuat kober bernilai sakral.
Peredi turut terlibat dalam pembangunan Museum Bali melalui peran keluarga Jro Kepisah.
Ia wafat pada 20 Januari 2022, namun semangat dan karya-karyanya terus hidup.
Berkat dedikasi dan kontribusinya terhadap seni rupa Bali, I Gusti Made Peredi menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain Seni Kerti Budaya Kota Denpasar (2004), Penghargaan Seniman Tua dari Gubernur Bali (2007), dan Piagam Dharma Kusuma (2008). (*)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Mengenang-I-Gusti-Made-Peredi-Seniman-Denpasar-Bali-dengan-Warisan-2617-Karya.jpg)