Berita Klungkung
Aksi Speeding di Kawasan PKB Jadi Tantangan Polres Klungkung, Polisi Dipantau Gunakan Drone
Maraknya aksi speeding (kebut-kebutan) hingga balapan liar di kawasan PKB (Pusat Kebudayaan Bali) menjadi tantangan Polres Klungkung.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Aksi Speeding di Kawasan PKB Jadi Tantangan Polres Klungkung, Polisi Dipantau Gunakan Drone
TRIBUN-BALI.COM, KLUGKUNG - Maraknya aksi speeding (kebut-kebutan) hingga balapan liar di kawasan PKB (Pusat Kebudayaan Bali) menjadi tantangan Polres Klungkung.
Terlebih beberapa kali terjadi kecelakaan, hingga adanya korban jiwa.
Kawasan PKB tepatnya di sekitar jembatan merah, kerap dimanfaatkan warga khususnya anak muda untuk berkumpul.
Baca juga: Kebut-kebutan Setelah Konvoi Kelulusan Sekolah di Klungkung Bali, Polisi Sita 19 Sepeda Motor
Beberapa juga memanfaatkan lokasi itu untuk speeding dan balapan liar, karena memilki jalan yang lebar, panjang, dan jalan beton yang masih sangat bagus.
Polisi dan para warga yang kerap melakukan aksi balap-balapan selalu kucing-kucingan.
Biasanya aksi dilakukan sore atau malam hari.
Baca juga: Warga Binaan di Klungkung Bali Dilatih Kewirausahaan, Dorong Kemandirian Ekonomi Setelah Bebas
"Bahkan mereka sampai menggunakan drone untuk memastikan keberadaan kami. Ketika kami sudah pergi dari lokasi tersebut, mereka kembali beraksi,” terang Kapolres Klungkung, AKBO Alfon Letsoin belum lama ini.
Pihaknya meminta partisipasi masyarakat agar mau melaporkan bila terjadi aksi balap liar di kawasan tersebut. Mengingat aksi yang dilakukan mereka sangat berbahaya.
Baca juga: Efisiensi Anggaran, Pemkab Klungkung Bali Tetap Bagikan Hibah Rp 56 Miliar Ke Masyarakat
Kasat Lantas Polres Klungkung, AKP Untung Laksono menambahkan, Polres Klungkung juga telah memasang puluhan barrier di pintu masuk PKB, tepatnya di arah menuju Desa Jumpai.
Dikarenakan kawasan itu juga kerap digunakan untuk memarkirkan truk yang juga mendapat keluhan masyarakat.
Namun ada sebanyak 24 barrier milik Polres Klungkung justru hilang.
”Sampai saya lem juga penutupnya biar tidak bisa dikeluarkan pasirnya, ternyata hilang juga. Harganya lumayan itu, lebih dari Rp800 ribu per unitnya,” ungkap Untung Laksono. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.