Berita Bali
Pemprov Bali Bakal Buka Industri Mesin Kendaraan Listrik, Jalin Kerja Sama dengan Yeong Gwang Korsel
Samsi mengakui, umumnya kendaraan bermotor listrik yang ada di Indonesia dan Bali tidak cocok dengan kondisi pasar.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bakal membuka industri mesin kendaraan listrik. Rencananya industri ini akan dibuka di Kabupaten Jembrana.
“Kita ada beberapa alternatif tempat. Sebetulnya sudah masuk di RTRW kita, kawasan industri di barat, Jembrana,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali, I Gde Wayan Samsi Gunarta dalam sambutannya saat menerima Delegasi Korea, Rabu 25 Juni 2025.
Dalam pertemuan tersebut juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Perumda Kerta Bali Saguna dengan Korea Automotive Technology Institute (KATECH), Korea smart E-Mobility Association (KEMA), Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), dan PT. Inako Pratama Indonesia tentang Pengembangan Industri Emobility.
Ini merupakan kesepakatan untuk pengembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Bali.
Baca juga: Atasi Kemacetan, Denpasar Bali Siapkan 40 Motor Listrik untuk TRC
Samsi mengatakan komitmen Provinsi Bali terhadap melestarikan lingkungan tersebut antara lain diwujudkan dengan penetapan target net zero emissions pada Tahun 2045 atau 15 tahun lebih cepat dari rencana nasional yang diletakkan pada tahun 2060.
“Di sektor hilir, Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan Pergub No 48 tahun 2019 tentang penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai sebagai upaya mendorong penggunaan moda transformasi dalam lingkungan,” jelas Samsi.
Sebagai upaya membangun ekosistem kendaraan listrik di Bali, Pemprov Bali menyusun Rencana Aksi Daerah Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
Rencana Aksi Daerah ini memuat target dan strategi percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis 5 pilar, yaitu manajemen, infrastruktur, industri dan baterai, sumber daya manusia, serta komunikasi dan pemasaran.
Samsi mengakui, umumnya kendaraan bermotor listrik yang ada di Indonesia dan Bali tidak cocok dengan kondisi pasar.
Selain itu, pengguna kendaraan listrik juga memerlukan beberapa mesin-mesin yang lebih dibutuhkan untuk memudahkan aktivitas di dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Industri ini juga bertujuan membangun mengembangkan teknologi-teknologi Korea agar bisa digunakan sebagai peralatan atau kendaraan yang bisa dimanfaatkan di Indonesia khususnya kendaraan pariwisata.
Industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Bali ini rencananya bukan untuk mobil atau motor, melainkan lebih ke mesin-mesin yang bersifat nis yang biasanya ada di kendaraan shuttle yang digunakan di Besakih, Sanur, alat-alat pembersih sampah, hingga mesin pembersih jalan.
“Kita penjajakan dulu karena harus jelas membangun itu nanti seperti apa investasinya, siapa yang akan memasukkan investasi, apakah mereka punya funding, untuk memasukkan investasi, kita sendiri bagaimana, kesiapan lahan dan sebagainya. Banyak hal yang harus dipersiapkan,” sambungnya.
Ia juga membeberkan alasannya memilih kerjasama dengan Yeong Gwang. Dikatakan Yeong Gwang merupakan kabupaten dengan industri kelistrikan yang kuat di Korea.
Yeong Gwang awalnya berbasis pertanian sampai sekarang masih sangat kuat.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.