Berita Bali
AS Jadi Negara Tujuan Ekspor Bali Tertinggi, Tarif 32 Persen Dinilai Akan Buat Nilai Ekspor Turun
AS Jadi Negara Tujuan Ekspor Bali Tertinggi, Tarif Ekspor 32 Persen Dinilai Akan Buat Nilai Ekspor Turun
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Amerika Serikat (AS) tercatat mendudukui posisi kedua setelah Tiongkok untuk negara tujuan ekspor Bali dengan nilai tertinggi.
Jika dilihat data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) Provinsi Bali, total nilai ekspor ke AS pada 2025 khususnya Januari-Mei tercatat sebesar USD 28 juta.
Angka tersebut menduduki posisi kedua setelah Tiongkok dengan nilai USD 39,6 juta.
Sementara pada sektor perikanan khususnya ikan tuna menyumbang nilai tertinggi untuk tujuan AS dari Bali pada 2025 ini dengan nilai USD 14,4 juta.
Baca juga: Koster Sebut Kementerian LHK Beri Warning Agar TPA Suwung Bali Tutup Di Desember 2025
Tertinggi kedua yakni tekstil dan produk tekstil dengan nilai USD 4,8 juta dan tertinggi ketiga oleh produk kerajinan khususnya kerajinan perak dengan nilai USD 3,5 juta.
Selain perikanan, berbagai jenis kerajinan dan tekstil, produk lain yang dieskpor ke AS yakni plastik, sepatu (alas kaki), komponen rumah, tas dan lainnya.
Baca juga: MASIH Tinggi! Harga Daging Babi Hari Ini 12 Juli Naik, 3 Kabupaten Patok Harga di Atas Rp100.000
Berdasarkan data ekspor ke AS lima tahun terkahir, nilai ekspor mengalami peningkatan pada 2021, sementara pada 2024 menurun. Pada 2020 nilai ekspor produk ke AS mencapai USD 111,9 juta.
Selanjutnya pada 2021 nilai ekspor melonjak menjadi USD 131,2 juta. Kemudian pada tahun 2022 total nilai ekspor produk Bali ke AS turun mencapai USD 125,9 juta. Demikian pada 2023 kembali menurun dengan total nilai ekspor ke AS mencapai USD 100 juta dan 2024 kembali merosot menjadi USD 79,7 juta. Produk yang menjadi primadona ekspor hampir sama dalam tahun ke tahun yakni perikanan terutama ikan tuna, kerajinan dan tekstil.
Menanggapi hal tersebut, Analisis Perdagangan Ahli Muda, Disdagprin Bali, IGN Gde Satrya Wibawa mengatakan, menurunnya nilai ekspor ke AS pada 2024 lalu dipengaruhi oleh gejolak dunia dan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok.
“Dengan adanya kebijakan kenaikan tarif bagi produk dari Indonesia ke AS sebesar 32 persen kemungkinan akan berpengaruh kembali pada turunnya nilai ekspor ke negara tersebut. Kalau sudah berlaku kebijakan ini (tarif 32 persen), kemungkinan ekspor ke Amerika akan turun," terangnya pada, Sabtu 12 Juli 2025.
Disinggung terkait negara lain tujuan ekspor yang potensial bagi Bali, Satrya Wibawa mengatakan, Eropa dan Asutralia menjadi negara potensial.
“Eropa dan Australia ini memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor produk Bali. Terutama untuk produk perikanan khususnya ikan tuna, tekstil, kerajinan perak dan kerajinan kayu," tutupnya.
Generasi Muda Hindu Ditempa Jadi Pemimpin Berkarakter di HLYC 2025 |
![]() |
---|
Dua Orang Pendaki Gunung Batukaru Bali Kelelahan, Tim SAR Gabungan Lakukan Evakuasi |
![]() |
---|
IESR dan Pemprov Bali Resmikan Empat PLTS di Tiga Desa, Total Kapasitas 15,37 kWp |
![]() |
---|
BERKAS 22 Tersangka Kasus Penganiayaan Prada Lucky Diserahkan ke Oditurat Militer |
![]() |
---|
MEMANAS! Massa Aksi di Polda Bali Tidak Kondusif, Lempari Batu dan Merusak Fasilitas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.