Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sponsored Content

Atat Bali Sambut Generasi Baru di Bali Bird Park, Bagian dari Fighting Extinction Program

Program utama Bali Bird Park yang berfokus pada konservasi dan pelestarian spesies burung endemik serta terancam punah di Indonesia.

Istimewa
Bali Bird Park dengan bangga mengumumkan kabar menggembirakan dari program konservasi “The Homecoming of Atat Bali, Mitchell’s Lorikeet (Trichoglossus forsteni mitchellii)”, atau yang juga dikenal sebagai Perkici Dada Merah. Keberhasilan penetasan anakan pertama ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang upaya konservasi spesies endemik Bali yang sempat dinyatakan punah di alam liar. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bali Bird Park dengan bangga mengumumkan kabar menggembirakan dari program konservasi “The Homecoming of Atat Bali, Mitchell’s Lorikeet (Trichoglossus forsteni mitchellii)”, atau yang juga dikenal sebagai Perkici Dada Merah, Rabu 10 Desember 2025. Keberhasilan penetasan anakan pertama ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang upaya konservasi spesies endemik Bali yang sempat dinyatakan punah di alam liar.

Inisiatif ini juga merupakan bagian dari Fighting Extinction Program, salah satu program utama Bali Bird Park yang berfokus pada konservasi dan pelestarian spesies burung endemik serta terancam punah di Indonesia.

 Kisah di Balik Program The Homecoming of Atat Bali

Program The Homecoming of Atat Bali merupakan inisiatif kolaboratif Bali Bird Park untuk memulangkan dan melestarikan kembali Atat Bali (Mitchell’s Lorikeet), jenis burung paruh bengkok berwarna cerah yang hidup[1]  di Bali dan Lombok.

Jenis Perkici ini berperan penting sebagai penyerbuk alami berkat lidah bercabang khusus yang digunakan untuk mengkonsumsi nektar, serbuk sari, dan buah-buahan lunak, menjadikannya komponen penting dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Setelah terakhir kali tercatat di alam liar pada tahun 2019 (Prihatmoko et al., 2019), [2] penurunan populasi dan hilangnya habitat mendorong dilakukannya aksi konservasi darurat. Menanggapi kondisi ini, Bali Bird Park memprakarsai proyek pemulangan Atat Bali dari Inggris, bekerja sama dengan Paradise Park UK, World Parrot Trust dan mendapat dukungan penuh dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali.

Program ini mengadaptasi pendekatan upaya konservasi berkelanjutan, dengan melibatkan proses karantina ketat, program pengembangbiakan terkontrol lintas generasi, dan rencana pelepasliaran bertahap untuk memastikan keberlangsungan populasi jangka panjang di habitat aslinya.

 
Kembalinya Atat Bali ke Pulau Asal

Pada 18 Juli 2025, Bali Bird Park secara resmi menyambut kedatangan Atat Bali (Mitchell’s Lorikeet) di fasilitas konservasi mereka di Gianyar. Kedatangan ini menjadi momen bersejarah bagi dunia konservasi Indonesia, menandai kembalinya spesies yang selama beberapa dekade absen dari alam liar Bali.

Setibanya di Bali Bird Park, seluruh burung menjalani masa karantina wajib selama 14 hari di fasilitas Karantina untuk memastikan kondisi kesehatan semua burung. Setelah dinyatakan sehat, burung-burung tersebut dipindahkan ke area Penangkaran untuk memasuki tahap adaptasi dan perjodohan sebagai langkah awal program penangkaran.

 
Keberhasilan Penangkaran Pertama

 Setelah dua bulan perawatan intensif dan enam minggu masa adaptasi di fasilitas penangkaran, Bali Bird Park dengan penuh sukacita menyambut generasi baru Atat Bali.

Hingga saat ini, lima pasang Atat Bali telah berhasil menetaskan sembilan anakan sehat, sementara beberapa pasangan lainnya masih dalam proses pengeraman telur berikutnya.

Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim perawat satwa dan tenaga ahli Bali Bird Park yang dengan penuh kasih, kesabaran, dan ketelitian dalam menjalankan program pengembangbiakan terkontrol Atat Bali.

 
Kunjungan dan Dukungan Pemerintah

Momen penting terjadi pada 26 September 2025, ketika Bali Bird Park menerima kunjungan kehormatan dari Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG), Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), serta Kepala BKSDA Bali. 

Dalam kesempatan ini, para pejabat tersebut secara langsung meninjau kondisi fasilitas penangkaran, mengamati telur dan anakan, serta secara simbolis memberikan Sertifikat Penamaan bagi dua anakan pertama Atat Bali yang diberi nama “Selaras” dan “Lestari”, melambangkan harmoni dan kelestarian alam.

Selain itu, Bali Bird Park juga diundang dalam kegiatan yang diprakarsai oleh BKSDA Bali dalam agenda kunjungan dari Komisi IV DPR-RI yang juga dihadiri oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) beserta jajaran, serta Gubernur Bali. 

Dalam kegiatan tersebut Bali Bird Park mendapatkan apresiasi dalam upaya konservasi Atat Bali serta diberikan sertifikat penamaan dari Gubernur Bali (Bapak Wayan Koster) dengan nama Kedis Atat Kerthi Bali dan dari Ketua Komisi IV DPR-RI (Ibu Siti Hediati Soeharto, S.E.) dengan nama Atat Amerta.

 
Menuju Pelepasliaran di Habitat Alami

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved