Hari Raya Galungan
Perayaan Galungan Nara Mangsa Pantang Menggunakan Daging
Selain Galungan Nara Mangsa, Ida Mpu menjelaskan dua jenis Galungan lainnya, yaitu Galungan Nadi dan Galungan biasa.
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mpu Jaya Acharya Nanda menegaskan, Galungan dikatakan Nara Mangsa ketika Tilem Kepitu ataupun Tilem Kesanga jatuh tepat pada Buda Kliwon Dunggulan.
"Nara artinya manusia dan Mangsa itu memangsa. Galungan disebut Nara Mangsa apabila Tilem Kepitu atau Kesanga jatuh pada Buda Kliwon Dunggulan," jelasnya, kemarin.
(Baca Juga Berita Terkait: 2 Sulinggih Pastikan Galungan Kali Ini Bukan Galungan Nara Mangsa)
Saat perayaannya, umat tidak diperkenankan memakai daging untuk segala bentuk pemujaan.
Kata Ida Mpu, daging biasanya digantikan dengan keladi, sejenis umbi-umbian.
Ida memberikan analisisnya, apabila dilihat dari posisi dan kondisinya, saat Tilem Kepitu matahari berada di posisi barat daya.
Sementara itu, saat Tilem Kesanga, matahari tepat berada di tengah-tengah.
Ida Mpu menyebutnya dengan Wiswakala.
"Tilem Kepitu, matahari berada di posisi barat daya, dewanya itu Dewa Rudra. Kalau Tilem Kesanga, matahari tepat berada di tengah-tengah, itu Dewa Siwa penguasanya. Dua arah itu adalah arah bertemunya Siwa dan Rudra," tuturnya.
Pada hakekatnya, Galungan adalah pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Durga.
Apabila aspek Durga memasuki Rudra maupun Siwa, maka akan memunculkan kekuatan maha dahsyat, penggabungan antara Bhuta dan Kala.
"Memurtilah dua kekuatan itu. Maka saat Galungan Nara Mangsa, kita umat Hindu tidak memakai daging, karena daging adalah aspek krodha. Kalau memakai daging, itu ibarat api yang sedang berkobar disiram bensin. Untuk nyomya, dipakailah umbi-umbian tersebut," jelas dosen yang mengajar di Institut Hindu Darma Negeri (IHDN) Denpasar ini.
Selain Galungan Nara Mangsa, Ida Mpu menjelaskan dua jenis Galungan lainnya, yaitu Galungan Nadi dan Galungan biasa.
Galungan dikatakan Nadi apabila rahina Purnama dan Tilem jatuh tepat saat Buda Kliwon Dunggulan.
Dalam lontar Sundari Gama, dijelaskan, Purnama ataupun Tilem sama-sama payogan Ida Bhatara.
Sedangkan, Galungan biasa, tidak ada pertemuan sistem Titi Kresna Paksa (Tilem) ataupun Titi Sukla Paksa (Purnama). (*)