Seniman Bali
Seniman Bali Ketut Putrayasa Tampilkan 14 Karya di Singapura, Angkat Satwa Langka
Karya berupa patung logam tersebut dipajang, di Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree, Singapura. Karya itu telah dipamerkan sejak dua
Penulis: Putu Supartika | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seniman asal Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, pamerkan 14 karyanya di Singapura.
Karya berupa patung logam tersebut dipajang, di Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree, Singapura. Karya itu telah dipamerkan sejak dua bulan terakhir.
Namun, bagi Putrayasa, karya itu bukan sekadar pajangan. Figur-figur logam berbentuk satwa langka seperti Sunda Pangolin dan Colugo menyimpan pesan kuat tentang konservasi.
“Bentuk yang saya buat adalah hewan-hewan yang hampir punah dan dilindungi. Saya ingin setiap orang yang melihat lebih mencintai hewan dan menyadari pentingnya menjaga mereka tetap hidup di bumi,” kata Putrayasa, Kamis, 4 September 2025.
Baca juga: BEM Unud Peringati September Hitam! Lakukan Doa Bersama dan Hidupkan Lilin, Apa Maknanya?
Baca juga: TERSANGKA Korupsi! Bantuan Chromebook Era Mentri Nadiem Masih Digunakan di SMP 5 Abiansemal
Menurut Putrayasa, membuat patung satwa bukan hal mudah. Setiap hewan memiliki karakter tubuh, detail anatomi, hingga ekspresi unik yang harus ditangkap dengan tepat.
“Kerumitannya di situ. Tapi saya bersyukur bisa dipercaya menciptakan karya yang bukan hanya dinikmati secara estetika, melainkan juga dihargai sebagai pesan moral di tempat berkelas dunia,” ujarnya.
Bagi Putrayasa, setiap patung adalah spirit konservasi. “Hewan adalah sahabat purbawi manusia. Banyak naskah kuno menuliskan sumbangsih hewan terhadap ilmu pengetahuan. Jadi karya saya adalah pengingat bahwa mereka bagian penting dari kehidupan manusia,” tambahnya.
Ini bukan kali pertama Putrayasa mendapat kesempatan berkarya di Singapura. Sebelumnya, ia dipercaya membuat karya monumental di Mandai Wildlife Singapore. Salah satunya patung “Mother & Child”, berukuran 3 x 5 meter, yang menggambarkan Trenggiling Sunda melindungi anaknya.
Patung berbahan kuningan dengan rangka stainless itu, menghadirkan detail sisik trenggiling yang tampak hidup, sekaligus mengingatkan publik bahwa spesies tersebut sejak 2016 masuk daftar hewan terancam punah menurut IUCN.
Pengamat seni sekaligus perupa, Tatang B. Sp, menilai karya Putrayasa melampaui batas artistik. “Patungnya bukan sekadar representasi visual, melainkan edukasi. Ia mengajak publik peduli pada satwa langka, khususnya trenggiling Sunda,” ujarnya.
Menurut Tatang, seni publik seperti yang digarap Putrayasa punya peran besar dalam membangun kesadaran kolektif. “Patung ini bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga menjadi ingatan yang diawetkan tentang pentingnya ekologi,” tambahnya.
Putrayasa menganggap kesempatan berkarya di luar negeri sebagai tanggung jawab moral. “Saya berharap patung-patung ini menjadi pengingat bahwa manusia dan hewan adalah satu ekosistem. Seni hanyalah jembatan untuk menyampaikan pesan itu,” pungkasnya. (*)
| Seniman Bali I Made Lasmawan Sebarkan Gamelan di AS, Dikritik Tajam, Belajar dari Maestro Kendang |
|
|---|
| Lukisan Sam Sianata: Kelas Sultan yang Tidak Dapat Dibeli Namun Bisa Dimahar |
|
|---|
| Refleksi Kritis Pariwisata Bali, Film Roots Karya Michael Schindhelm Diputar di Bali |
|
|---|
| Lukisan Go Green Tapuparwa Dipamerkan di Event Internasional BGAAD - ISI Bali |
|
|---|
| Heartbeat Rhythm oleh Ni Way, Pameran Seni yang Merayakan Detak Kehidupan, Emosi, dan Jiwa Manusia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/PAMERAN-Patung-karya-Ketut-Putrayasa-dipamerkan-di-Singapura.jpg)