Hari Raya Nyepi
Wacana Perubahan Waktu Tawur dan Nyepi, Sabha Wiku Klungkung Ingatkan Ranah Tattwa
Belakangan ini muncul wacana memindahkan pelaksanaan Nyepi ke Tilem Kasanga.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Belakangan ini muncul wacana memindahkan pelaksanaan Nyepi ke Tilem Kasanga.
Wacana itu digulirkan oleh Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat dan dibahas dalam Pasamuhan Agung yang digelar di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, pada Selasa, 30 Desember 2025.
Hal itu, memunculkan pro kontra terkait dengan penetapan tegak Nyepi antara Tilem Kasanga dan pananggal apisan sasih Kadasa.
Sabha Wiku Kabupaten Klungkung menentukan sikap terkait wacana perubahan waktu pelaksanaan Tawur Kesanga dan Brata Penyepian (Hari Raya Nyepi).
Baca juga: Daftar Lengkap Libur dan Cuti Bersama Tahun 2026, Warga Bali Perlu Catat Libur Panjang dan Nyepi
Manggala Sabha Wiku Kabupaten Klungkung, Ida Pedanda Gede Putra Batuaji mengatakan, pelaksanaan Tawur Kesanga dan Brata Penyepian merupakan wilayah Tattwa (ajaran suci) yang tidak boleh dicampuri kepentingan politik maupun administratif.
Penegasan ini disampaikan dalam pernyataan resmi Sabha Wiku bersama Ida Dalem Semara Putra, sebagai upaya menjaga kemurnian ajaran Hindu dan keharmonisan jagat sekala-niskala.
Ida Pedanda Gede Putra Batuaji menyatakan, penentuan waktu dan tata laksana Tawur serta Penyepian wajib tunduk pada sastra, purana, dan tradisi suci yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: INI ALASAN Nyepi Akan Digelar Saat Tilem Kasanga, Bali Bakal Buat Kalender Sendiri, Sebulan 35 Hari!
“Tawur dan Penyepian adalah wilayah Tattwa, bukan wilayah politik atau administratif. Supremasi Tattwa harus berada di atas kebijakan yang bersifat temporer,” tegasnya, Jumat (2/1/2026).
Dalam pernyataan tersebut, Sabha Wiku menempatkan Negara Kertagama sebagai rujukan agung Tattwa Negara yang telah digunakan sejak era Majapahit dan diakui secara luas sejak tahun 1953.
Negara Kertagama dinilai menjadi dasar penting dalam menata hubungan agama, negara, dan jagat dalam bingkai Tri Hita Karana.
Merujuk pada Negara Kertagama, pelaksanaan Tawur ditegaskan berlangsung pada Tilem, sebagai momentum pralina dan pemahayu jagat.
Baca juga: POLEMIK Nyepi di Bali, Sekum PHDI Beri Data Otentik Dari Gedong Kertya Catatan Sejak Tahun 1935!
Sementara Brata Penyepian dilaksanakan pada Penanggal Apisan sebagai awal Tahun Saka dan proses penyucian total.
“Rujukan ini bersifat valid dan seharusnya menjadi penutup perdebatan agar umat tidak terus berada dalam kegaduhan,” ujar Ida Pedanda Gede Putra Batuaji.
Terkait keberadaan sastra Sundarigama dan Swamandala, Sabha Wiku menghormatinya sebagai sastra yang penting.
Namun secara akademik dan tattwika, keduanya sastra itu bersifat lokal-regional, digunakan untuk penataan adat setempat, tidak dimaksudkan untuk menegasikan Tattwa Negara yang berskala jagat Bali.
Baca juga: INI ALASAN Nyepi Akan Digelar Saat Tilem Kasanga, Bali Bakal Buat Kalender Sendiri, Sebulan 35 Hari!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-nyepi-di-denpasar-2022.jpg)