Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Arak Fermentasi Gula Kian Marak Di Pasaran, Rusak Harga Arak Tradisional Bali

Perbedaan harga yang cukup jauh, membuat permintaan pasar lebih banyak ke arak fermentasi gula.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Lokasi sentra usaha perajin arak tradisional (destilasi) di Desa Gegelang, Karangasem, Rabu 28 Januari 2026. Arak Fermentasi Gula Kian Marak Di Pasaran, Rusak Harga Arak Tradisional Bali 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Pemerintah Provinsi Bali menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Peringatan Hari Arak Bali.

Namun saat ini, industri minuman beralkohol tersebut tengah dihadapkan dengan kian masifnya peredaran arak fermentasi gula, yang merusak langsung harga arak tradisional Bali (hasil destilasi).

Bahkan karena tidak mampu bersaing di pasaran, para produsen arak tradisional yang dulunya memproduksi arak dengan cara destilasi nira kelapa, kini beralih ke produksi arak fermentasi dengan bahan baku gula dan ragi.

"Sekarang permintaan arak asli (destilasi) agak berkurang drastis, karena harganya kalah jauh dengan harga arak gula. Paling arak asli hanya untuk pemesan tertentu saja," ujar seorang perajin arak di Sidemen, Karangasem, Gede Ariawan, Rabu 28 Januari 2026.

Baca juga: Hari Arak Bali ke-6 Tahun, Produksi Arak Legal di Bali Capai 4 Ribu Liter Per Bulan

Ia menjelaskan, harga arak fermentasi gula hanya sekitar Rp15 ribu per botol 600 ml.

Sementara harga arak destilasi nira kelapa, dijual kisaran Rp25 ribu sampai Rp30 ribu di pasaran.

Perbedaan harga yang cukup jauh, membuat permintaan pasar lebih banyak ke arak fermentasi gula.

"Kalau orderan pun, yang banyak malah arak gula karena harganya yang murah. Kalau arak asli (destilasi), paling untuk pelanggan tertentu yang memang fanatik atau penggemar arak," ungkapnya.

Sehingga ia pun memutuskan untuk ikut membuat arak fermentasi gula, selain tetap memproduksi arak destilasi untuk pelanggan yang menurutnya jumlah kecil.

Bahkan menurutnya, membuat arak dengan cara fermentasi gula justru lebih mudah dan minim risiko.

"Kalau buat arak fermentasi gula, kan bahannya tinggal gula pasir ditambah ragi dan air. Tidak perlu lagi memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira kelapa. Jadi lebih minim resiko dan tenaga," jelasnya.

Walau diakuinya, kalau dari segi rasa memang lebih nikmat arak destilasi nira kelapa.

Namun persaingan harga di pasaran, membuat arak fermentasi gula saat ini posisinya menguntungkan secara ekonomi.

"Kalau pecinta arak, tentu arak asli (destilasi) lebih enak. Tapi kan tidak banyak pembeli yang fanatik arak asli. Kalau arak gula itu biasanya ada aroma raginya dan baunya agak tajam. Tapi kalau orang awam, pasti susah bedakan. Apalagi minuman arak yang dipakai berbagai rasa itu (Cocktail) kebanyakan arak gula," ungkapnya.

Perajin arak lainnya, Nengah Sutapa mengatakan hal serupa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved