Berita Bali
Bali Siap Curi Start dari Thailand Gaungkan Pengobatan Tradisional dan Komplementer ke Ranah Global
Pada ajang ITB Berlin tahun lalu, pihak Thailand bahkan sempat mengakui keunggulan Bali dalam kecepatan eksekusi konsep wellness expo ini.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Di tengah ketatnya persaingan destinasi pariwisata di Asia Tenggara, Bali mulai mempertegas posisinya bukan sekadar tempat berlibur, melainkan sebagai pusat kesehatan dan kecantikan (wellness and beauty) global.
Langkah strategis ini tercermin dalam evaluasi kesuksesan Bali Wellness and Beauty Expo (BWB) 2025 dan persiapan menuju penyelenggaraan tahun kedua yang lebih ambisius.
Penyelenggaraan perdana BWB Expo telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki daya tawar tinggi.
Berdasarkan data ringkasan pasca-event, expo ini berhasil menghadirkan 107 perusahaan dalam 80 booth, dengan total kunjungan mencapai 2.853 orang, termasuk 103 buyers dan 120 VIPs.
Baca juga: Kabupaten Badung Waspada Kemunculan Virus Nipah Ancam Dunia Pariwisata, Adi Arnawa: Lebih Selektif
Menariknya, tingkat kepuasan pengunjung berada di angka 4,55 dari skala 5, sebuah sinyal kuat bahwa pasar sangat antusias terhadap platform ini.
Co-Founder dan Managing Director BWB, Dr. Diah Permana Tirtawati, MBA, menegaskan bahwa momentum ini harus dijaga agar posisi Bali tidak tergeser oleh kompetitor regional seperti Thailand dan Vietnam.
"Kita jangan hanya sebagai penonton saja, jangan sampai disalip oleh Thailand, Vietnam, dan yang lain. Di ASEAN, kita harus menjadi yang pertama," ujar Dr. Diah salam konferensi pers di Denpasar, Selasa 2 Februari 2026.
"Kami dapat support dari pemerintah, ini momentum untuk meningkatkan kerja sama dan kolaborasi lebih mengenalkan tradisi Bali ke dunia," sambungnya.
Ia mengungkapkan bahwa pada ajang ITB Berlin tahun lalu, pihak Thailand bahkan sempat mengakui keunggulan Bali dalam kecepatan eksekusi konsep wellness expo ini.
Mengusung tema "Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World", BWB dirancang selaras dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan, yang memposisikan Bali sebagai gateway atau pintu gerbang wellness nasional.
"Nama Bali digunakan karena kekuatan branding-nya yang sudah mendunia, mirip seperti ITB di Berlin atau WTM di London. Tujuannya adalah merangkul daerah lain di Indonesia untuk masuk ke pasar global melalui pintu Bali," paparnya.
Untuk memperkuat ekosistem ini, BWB Expo mengadopsi delapan pilar utama yang sedang menjadi tren global, mulai dari perawatan diri, pola makan sehat, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental dan properti berbasis wellness.
Uniknya, Bali menawarkan nilai lebih melalui Pengobatan Tradisional dan Komplementer.
Kolaborasi dengan asosiasi seperti Gotra Panusada dilakukan untuk mengangkat kearifan lokal seperti boreh dan loloh agar sejajar dengan Ayurveda dari India atau Traditional Chinese Medicine (TCM).
Pada kesempatan yang sama, Managing Director PT Melali MICE, Dr. Ketut Jaman, SS, MSi, menekankan bahwa keberhasilan visi ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor atau Pentahelix.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Bali-Siap-Curi-Start-dari-Thailand-Gaungkan-Pengobatan-Tradisional-dan-Komplementer-ke-Ranah-Global.jpg)