Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Gali Penyebab Ulah Pati di Bali, Rai Mantra Turunkan Tim ke Desa-Desa

Angka kasus ulah pati di Bali sangat tinggi dan menjadi perhatian Anggota DPD RI perwakilan Bali, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
(Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra)
Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Rai Mantra). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Angka kasus ulah pati di Bali sangat tinggi dan menjadi perhatian Anggota DPD RI perwakilan Bali, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra.

Terkait hal itu, Rai Mantra pun menerjunkan tim ke desa-desa untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait penyebab kasus tersebut. 

Langkah ini dilakukan untuk memahami permasalahan secara langsung, mengetahui penyebab kasus, memetakan upaya yang telah dilakukan, serta mengidentifikasi kendala di tingkat desa.

Baca juga: Miris, Wayan Rencana Meninggal Tersambar Petir di Danau Batur, Ternyata Tulang Punggung Keluarga

Dari proses tersebut diharapkan dapat dirumuskan langkah antisipasi dan penanganan yang lebih tepat oleh pihak-pihak yang kompeten. 

Apalagi dari data yang dihimpun, menunjukkan jika Bali dalam beberapa tahun terakhir berada pada kelompok provinsi dengan angka ulah pati tertinggi di Indonesia. 

Pada 2023 tercatat sekitar 3,07 per 100.000 penduduk dengan kurang lebih 135 kasus.

Baca juga: Tekan Angka Ulah Pati di Bali, Rai Mantra Turunkan Tim ke Desa-Desa, Gali Penyebab hingga Kendala

Sementara sejumlah sumber mencatat 95 kasus pada 2024. 


Kondisi ini memperlihatkan perlunya langkah pencegahan yang lebih terstruktur dan berbasis kebutuhan masyarakat.


Salah satu desa yang telah disasar oleh tim ini adalah Desa Peguyangan Kaja, Denpasar melalui kegiatan Diskusi Pencegahan Bunuh Diri.


Pertemuan di Peguyangan Kaja dihadiri oleh Kepala Desa beserta seluruh kepala dusun, Kepala Puskesmas Denpasar Utara III bersama tenaga kesehatan jiwa, serta perangkat desa terkait. 


Dalam diskusi tersebut, Kepala Desa Peguyangan Kaja, I Made Parmita, menekankan pentingnya membangun sistem deteksi dini berbasis banjar melalui pembentukan kader yang memahami gejala awal gangguan mental serta jalur pertolongan pertama bagi keluarga yang membutuhkan bantuan.


Sementara itu, Kepala Puskesmas Denpasar Utara III, dr. I. B. Jelantik Manuaba, menjelaskan bahwa program layanan kesehatan jiwa melalui Pos Prana Jiwa masih berada pada tahap rencana pembentukan. 


"Untuk Pos Prana Jiwa itu baru rencana pembentukan, dan satu kegiatan yang ada belum kami publikasikan karena masih dalam proses evaluasi terkait hambatan dan halangan dalam pelaksanaannya," jelas dr. Jelantik Manuaba.


Ia menambahkan bahwa pihak puskesmas tetap berkomitmen memperkuat skrining kesehatan jiwa, meskipun saat ini jangkauannya masih terbatas akibat keterbatasan tenaga dan partisipasi masyarakat.


Sementara itu, Rai Mantra mengatakan bahwa ia sengaja menurunkan tim untuk mendengar langsung dari desa terkait penyebab kasus di lapangan, apa yang sudah dilakukan, kendala apa yang dihadapi, dan bantuan seperti apa yang dibutuhkan. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved