Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

Sebagian Orang Tua Dukung Pembelajaran Daring, Efek Perang Timur Tengah Terhadap Pasokan Energi

Sebagian Orang Tua Dukung Pembelajaran Daring, Efek Perang Timur Tengah Terhadap Pasokan Energi

|
Istimewa
BELAJAR MENGAJAR 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana masih menunggu ketentuan teknis mengenai wacana pembelajaran daring oleh pemerintah pusat sebagai upaya menghemat BBM dampak global perang di timur tengah terhadap pasokan energi.

Disisi lain, pihak orang tua justru mendukung wacana tersebut karena dinilai lebih efektif dari sisi operasional. 

Untuk diketahui, Pemerintah Pusat berencana menerapkan sistem pembelajaran secara daring mulai April 2026 mendatang atau usai libur panjang Idul Fitri. Kebijakan tersebut serangkaian dengan upaya efisiensi pengunaan bahan bakar karena dampak global perang timur tengah khususnya terganggunya Selat Hormuz yang kemungkinan saja membuat pasokan berkurang dan harganya jauh lebih mahal.

Baca juga: Hendak Kembali ke Villa di Kerobokan, WNA Belanda Dibacok 2 Pria Bermotor, Pacar Sempat Lari

"Sampai saat ini juga masih menunggu ketentuan teknis (dari pusat) untuk pelaksanaannya di lapangan nanti," ungkap Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra saat dikonfirmasi, Selasa 24 Maret 2026.

Ketua MKKS SMA Jembrana, I Komang Winata juga mengakui hal senada. Dia mengakui masih menunggu petunjuk teknis (Juknis) dari Pemerintah Provinsi maupun Pusat untuk implementasinya di lapangan.

Baca juga: 15 Arti Mimpi Bertunangan Lagi, Melambangkan Pembaruan Hingga Keharmonisan

"Sampai saat ini kami masih belum menerima juknisnya (pembelajaran daring) tersebut," kata Winata saat dikonfirmasi. 


Disingung mengenai jika nantinya pembelajaran daring diterapkan, Winata mengakui sejauh ini pembelajaran tatap muka adalah yang paling maksimal. Sementara pembelajaran daring bisa saja menurunkan kualitas pembelajaran itu sendiri karena kesulitan mengontrol anak didik ketika berada berjauhan. 


"Jika dari sisi kualitas hasil pembelajaran, kita tidak berharap dilaksanakan daring. Karena dengan tatap muka langsung itu yang paling efektif (pembelajaran)," tegas pria yang merupakan Kepala SMAN 2 Mendoyo ini.


Berbeda dengan Pemerintah dan Sekolah, pihak orang tua justru menyambut baik wacana pembelajaran daring tersebut. Dengan belajar dari rumah, para orang tua lebih hemat dari sisi operasional. Sebab, tidak perlu mengantar jemput siswa setiap hari, kemudian pembelajaran di rumah dirasa lebih efektif. 


"Kalau saya lebih setuju daring. Selain mengefisiensi waktu, tenaga dan juga operasional orang tua setiap harinya. Nanti kan bisa kita les saja dengan mendatangkan guru ke rumah," ungkap Agus Surya saat diminta tanggapan terkait wacana daring.


Bagaimana dengan kontak sosial dengan teman dan lingkungannya jika terus dilaksanakan daring? Agus menyebutkan untuk tingkat PAUD hingga SMA, dirinya merasa anaknya masih bisa berinteraksi sosial dengan kawan di sekitar rumahnya. 


"Kan juga ketemu setiap hari dengan keluarga dekat maupun teman-teman di sekitar rumah kita. Saya rasa bisa lebih efektif ketika pembelajaran daring direalisasikan," tandasnya.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved