Bisnis
HEBAT, Nyoman Sudiarta Olah Limbah Jadi Cuan! Karya ‘Recycle Mask’ Warga Buleleng Kantongi HKI
Bahkan, inovasi tersebut kini mendapat pengakuan resmi dari negara melalui sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Limbah masker, kardus, dan plastik yang biasanya berakhir di tempat sampah, di tangan warga Buleleng justru berubah menjadi karya seni bernilai jual.
Bahkan, inovasi tersebut kini mendapat pengakuan resmi dari negara melalui sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Adalah Nyoman Sudiarta, kreator di balik karya bertajuk “Recycle Mask”, yang memanfaatkan limbah kardus dan bahan bekas lainnya menjadi topeng, patung, hingga miniatur ogoh-ogoh.
Dari kreativitas itu, ia tak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga memperoleh tambahan penghasilan.
"Saya melihat sampah kardus bukan hanya barang buangan, tapi punya nilai. Dari kardus saya bisa buat patung atau topeng, hasilnya bisa dijual," ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Baca juga: INFLASI Tahunan Diproyeksi Melandai, Tekanan Harga Pangan Tetap Tinggi, Bawang Putih Potensi Deflasi
Baca juga: ARUS Peti Kemas Tanjung Priok Kembali Normal
Pengakuan terhadap karya tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat HKI yang diterima Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, dalam seremoni di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Rabu (1/4). Sertifikat diserahkan oleh Supratman Andi Agtas, disaksikan Megawati Soekarnoputri dan I Wayan Koster.
Sutjidra menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi dan seni tinggi. Selain itu, perlindungan HKI dinilai penting agar karya kreator lokal tidak disalahgunakan.
"Dengan adanya perlindungan hukum, para pelaku ekonomi kreatif diharapkan semakin percaya diri untuk mengembangkan inovasi," ujarnya.
Lebih dari sekadar kerajinan daur ulang, 'Recycle Mask' dinilai membawa pesan kuat tentang kepedulian lingkungan. Di tengah persoalan sampah yang terus meningkat, pendekatan kreatif berbasis masyarakat ini menjadi salah satu solusi alternatif yang berdampak langsung.
Pemerintah Kabupaten Buleleng pun mulai mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis lingkungan, melalui pembinaan dan pendampingan kepada para pelaku usaha.
Bagi Sudiarta, pengakuan ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga motivasi untuk terus berkarya. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang melihat potensi limbah, bukan sebagai masalah, melainkan peluang.
"Selain membantu lingkungan, ini juga bisa jadi sumber penghasilan. Harapannya, makin banyak yang ikut mencoba," tutupnya. (mer)
| QRIS Wondr by BNI Kini Bisa Dipakai di China |
|
|---|
| HARGA Eceran Tertinggi Minyakita Segera Naik! HET Berubah dalam Waktu Dekat, Ini Kata Kemendag |
|
|---|
| Stabilitas Industri Jasa Keuangan di Bali Tetap Stabil dan Tumbuh Positif, Simak Penjelasannya |
|
|---|
| RENCANA Pemprov Bali Beri Insentif Pajak Kendaraan Listrik, Wuling Dukung dengan Hal Ini |
|
|---|
| DAMPAK Kenaikan Harga Plastik, Biaya Produksi Membengkak, Pedagang di Denpasar Akan Sesuaikan Harga! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Nyoman-Sudiarta-menunjukkan-karya-Recycle-Mask-miliknya-Karya-daur-ulang-sampah-plastik.jpg)