Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Demam Berdarah di Buleleng

Bocah 4 Tahun di Buleleng Sempat Sembahyang Saraswati Sebelum Meninggal, Komplikasi DBD

Seorang bocah 4 tahun di Buleleng meninggal dunia disebabkan komplikasi demam berdarah dengue (DBD).

|
Istimewa
Pemakaman - Suasana pemakaman Dwitya, bocah 4 tahun yang meninggal dunia akibat komplikasi DBD. Dwitya dimakamkan di Setra Banyuning Timur, Jumat (10/4/2026) 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Seorang bocah 4 tahun di Buleleng meninggal dunia disebabkan komplikasi demam berdarah dengue (DBD).

Korban bernama Kadek Giara Dwitya Pradyanti, asal Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Ia menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (7/4/2026) siang. 

Menurut ayah Dwitya, Gede Andy Pradnyana, gejala awal dialami pada Kamis (2/4/2026). Saat itu putrinya mengalami demam, mual dan muntah hingga akhirnya dibawa ke IGD salah satu rumah sakit, pada keesokan harinya.

Baca juga: Gianyar Bali Bersiap Hadapi DBD, Penyakit Tahunan Yang Kerap Renggut Nyawa

"Saat itu diberi obat dan rawat jalan," jelas Andy.

Setelah mendapat penanganan medis, kondisi Dwitya diakui sudah mulai membaik.

Perempuan 4 tahun itu bahkan sempat diajak sembahyang saat hari raya Saraswati pada Sabtu (4/4/2026), serta menjalani tes darah ke salah satu laboratorium swasta di Buleleng.

"Hasil tes darah, katanya masih dalam batas normal. Demamnya juga mereda," ucap Andy.

Baca juga: DBD Renggut Nyawa 14 Orang, Kasus Tertinggi di Badung, Gianyar, Buleleng, Karangasem, dan Denpasar

Namun pada Minggu (5/4/2026) pagi, Dwitya kembali mengalami demam disertai sakit perut.

Pihak keluarga kembali membawa Dwitya ke IGD, kemudian dilakukan tes darah ulang.

"Saat itulah baru didiagnosa mengarah ke DBD. Sehingga diambil tindakan opname," imbuhnya.

Kondisi Dwitya terus menurun pada Senin (6/4/2026). Tubuhnya lemas, tangan dan kakinya terasa dingin. Trombositnya juga turun di angka 60 ribu. 

Baca juga: Tujuh Warga Sempat Dirawat di Rumah Sakit, Kasus DBD Merebak di Desa Pakisan Buleleng

Pihak rumah sakit segera memindahkannya ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif.

Namun pada Selasa (7/4/2026), kondisinya terus menurun hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir.

"Di Selasa trombositnya turun lagi di angka 30 ribu, disertai buang air besar berdarah. Sekitar jam 1 siang, anak saya sudah tidak tertolong lagi," ucapnya lirih.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved