Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Buleleng

PENGIRIMAN April Melonjak 9.870 Ekor, Permintaan Naik, Harga Sapi Peternak di Buleleng Tetap Murah

Permintaan sapi dari Buleleng menjelang Iduladha meningkat tajam, terutama untuk memenuhi kebutuhan di Jakarta.

Tayang:
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Tribun Bali/ Muhammad Fredey Mercury  BERI KETERANGAN - Kepala Dinas PKPP Buleleng, Gede Melandrat. Ia mengatakan permintaan sapi Buleleng naik tapi harganya tetap. 

TRIBUN-BALI.COM - Permintaan sapi dari Buleleng menjelang Iduladha meningkat tajam, terutama untuk memenuhi kebutuhan di Jakarta. Sayangnya lonjakan permintaan ini belum berdampak signifikan terhadap harga sapi di tingkat peternak.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKPP), lonjakan permintaan sapi mulai terlihat sejak dua bulan belakangan. Di mana pada Maret tercatat 1.174 sapi Buleleng dikirim. Selanjutnya pada April, pengiriman melonjak lebih tinggi yakni 9.870 ekor. 

Baca juga: PETUGAS Temukan Barang Berbahaya di Kamar WBP, Temukan Kartu Remi hingga Gunting, Akan Dimusnahkan!

Baca juga: BULE Inggris yang Tebas FO di Buleleng Ternyata Punya Riwayat Gangguan Jiwa, AM Ditetapkan Tersangka

Kepala Dinas PKPP Buleleng, Gede Melandrat, mengungkapkan sebagian besar sapi di Buleleng dikirim ke Jakarta dan sebagian kecil ke Makassar. Pengiriman ke Jakarta untuk memenuhi kuota Perumda Dharma Jaya. "Itu merupakan BUMD DKI Jakarta," ucap Melandrat, Jumat (8/5). 

Walaupun permintaan tinggi, kondisi ini justru tidak berdampak signifikan pada para peternak. Sebab harga jual sapi ke luar Bali mengacu pada harga jual di tingkat peternak.  

"Saat ini harga di tingkat peternak rata-rata Rp45 ribu per kilo. Jadi tidak ada kenaikan. Bahkan terdapat perbedaan harga antara sapi jantan dan betina. Kalau betina lebih murah. Padahal setelah disembelih, dagingnya sama saja," ujarnya. 

Walau demikian, Melandrat tetap bersyukur atas lonjakan permintaan sapi Buleleng. Sehingga momentum Iduladha ini memberikan rezeki bagi peternak lokal. Terlebih saat ini pihak dinas secara intensif melakukan pengendalian terhadap penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

"Sebelumnya peternak selalu dihantui dengan penyakit ini karena menyebabkan harga sapi anjlok. Astungkara sekarang sudah tidak ada. Ini berkat gencarnya vaksinasi yang kami lakukan," kata dia. 

Meski demikian, kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit tetap dilakukan. Untuk memastikan kondisi sapi tetap sehat sebelum dikirim keluar daerah, setiap ternak diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan. 

"Ada SOP sebelum dikirim diperiksa oleh ahli dari peternakan. Jadi ada dokter hewan atau veteriner yang memberikan rekomendasi boleh tidaknya sapi itu dibawa ke luar," tandasnya. (mer)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved