Hari Raya Galungan dan Kuningan
Jelang Galungan, Harga Cabai Rawit Merah di Buleleng Tembus Rp90 Ribu Per Kilo, Naik 80 Persen
Harga sejumlah kebutuhan dapur di pasar tradisional mengalami kenaikan jelang Hari Raya Galungan.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Harga sejumlah kebutuhan dapur di pasar tradisional mengalami kenaikan jelang Hari Raya Galungan.
Kenaikan paling tinggi yakni cabai rawit merah. Di mana dalam sepekan terakhir, lonjakan harga telah mencapai hampir 80 persen.
Salah satu pedagang di Pasar Banyuasri, Buleleng, Kadek Desi, mengatakan harga cabai rawit merah awalnya berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilo.
Namun sejak sepekan terakhir, harganya melonjak jadi Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilo.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga Pipa, PDAM Buleleng Bali Tahan Biaya Sambungan Baru
"Tadi saya dapat info, besok harganya naik lagi," ucapnya ditemui Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga cabai rawit murni dipengaruhi hari raya Galungan yang jatuh pada 17 Juni 2026 mendatang.
Kenaikan harga cabai diprediksi menyentuh angka Rp100 ribu per kilo.
"Kemungkinan paling tinggi Rp100 ribu per kilo. Harga ini bertahan hingga Hari Raya Kuningan. Setelahnya berangsur normal rata-rata Rp50 ribu per kilo," ungkapnya.
Baca juga: Kenaikan Harga Pertamax, Klungkung Siapkan Penyesuaian Anggaran Transportasi OPD, Tekankan Efisiensi
Demikian pula harga tomat juga mengalami lonjakan. Dari awalnya Rp12 ribu per kilo, saat ini sudah mencapai Rp20 ribu per kilo.
"Kenaikan harga sudah semingguan ini," imbuhnya.
Selain harga cabai rawit dan tomat, bumbu dapur seperti bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan sejak dua pekan terakhir.
Bawang merah dari awalnya Rp35 ribu per kilo, kini menjadi Rp50 ribu per kilo. Sedangkan bawang putih dari awalnya Rp30 ribu per kilo, kini menjadi Rp40 ribu per kilo.
Baca juga: Harga Pertamax Naik 32 Persen Jadi Rp16.250 per Liter, Pengamat Ungkap Dampaknya bagi Ekonomi Bali
Berbeda dengan komoditas lain yang naik karena pengaruh hari raya.
Menurut Kadek Desi, naiknya harga bawang merah justru karena pengaruh pasokan di Bali yang terbatas.
Perempuan 40 tahun itu mengatakan, bawang merah Bali pasokannya dari wilayah Kintamani, Bangli. Saat ini pasokan bawang Bali kebanyakan di kirim ke Jawa. Alhasil kebutuhan untuk Bali terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kadek-Desi-saat-ditemui-di-lapak-dagangannya-di-Pasar-Banyuasri.jpg)