Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Sentil Kerusakan Lingkungan, STT Tunas Muda Hadirkan Ogoh-Ogoh Berkonsep Odong-Odong Interaktif

Sentil Kerusakan Lingkungan, STT Tunas Muda Hadirkan Ogoh-Ogoh Berkonsep Odong-Odong Interaktif

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
Tribun Bali
Anak-anak didampingi orang tuanya antusias mencoba odong-odong pada ogoh-ogoh ST Tunas Muda Banjar Dukuh Mertajati Sidakarya Denpasar 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ada yang berbeda dari ogoh-ogoh yang dibuat oleh STT Tunas Muda, Banjar Dukuh Mertajati, Sidakarya, Denpasar tahun ini.

STT ini membuat ogoh-ogoh eksperimental yang tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga membawa misi kritik sosial yang tajam terhadap kerusakan lingkungan.

Berbeda dengan pakem konvensional, STT Tunas Muda tahun ini mengangkat tema besar kritik sosial mengenai eksploitasi hutan dan krisis sampah yang tak kunjung usai. 

Menariknya, mereka mengintegrasikan lima buah odong-odong interaktif ke dalam struktur karya mereka.

Baca juga: Pasca Banjir, Siswa SDN 18 Sesetan Denpasar Gelar Bersih-bersih, Kepsek: Besok Belajar Biasa

Tak hanya itu, pada badan ogoh-ogoh juga dilengkapi LED yang menampilkan tayangan kerusakan alam hingga pembalakan hutan.

Ogoh-ogoh ini bisa dilihat dari dua sisi baik depan mau pun belakang karena memiliki dua wajah.

Ketua STT Tunas Muda, I Kadek Dwijaya Putra, menjelaskan pemilihan materi ogoh-ogoh tahun ini merupakan bentuk sindiran halus kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atas kerusakan alam, termasuk lambatnya penanganan masalah sampah oleh pemerintah.

Baca juga: Tim Siber Polres Gianyar Bali Pantau Harga, Daging Ayam Masih Stabil

"Kami menggunakan bahan recycle (daur ulang) sebagai bahan utama. Mulai dari kaleng bekas, cacahan tutup botol, hingga serpihan plastik yang sulit terurai. Kami ingin menyampaikan pesan kuat tentang kondisi lingkungan kita saat ini," ujar Dwijaya Putra, Rabu, 25 Februari 2026.


Pada badan ogoh-ogoh semua dilapisi dengan kaleng, sementara di badan odong-odong menggunakan cacahan tutup botol dan sampah plastik yang dipotong-potong kecil.


Tak hanya limbah, sentuhan modernitas berupa teknologi LED juga disematkan. 


Layar LED tersebut akan menampilkan video berisi sindiran terhadap aksi pembalakan liar yang merusak sumber mata air dan habitat satwa.


Sementara adanya odong-odong bukan tanpa alasan. 


Komang Bagus Udiana, Sekretaris STT, mengungkapkan bahwa odong-odong adalah magnet visual untuk menarik minat anak-anak dan balita agar mau berinteraksi langsung dengan karya seni budaya.


"Odong-odong itu simbol kebahagiaan anak-anak. Jika anak-anak tertarik, orang tua mereka pasti ikut mendekat. Kami ingin merangkul semua kalangan masyarakat Denpasar dan luar Denpasar, bukan hanya remaja, untuk peduli pada isu yang kami angkat," jelasnya.


Menariknya, kelima odong-odong tersebut dapat dinaiki oleh anak-anak dengan berat maksimal 25 kg secara gratis mulai pukul 17.00 Wita.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved