Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

TANTANGAN dan Ancaman Kebebasan Pers dan Berekspresi di Bali Jadi Diskusi AJI Bersama Insan Media!

Dari data yang dijabarkan di Bulan Agustus-September 2025, terdapat 6.719 massa aksi yang melakukan unjuk rasa ditangkap

Tayang:
Tribun Bali/ISTIMEWA
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, menggelar diskusi publik yang dihadiri mahasiswa, akademisi, serta para jurnalis dari berbagai organisasi di Bali. Diskusi bertajuk,"Tantangan dan Ancaman Kebebasan Pers dan Berekspresi di Bali," digelar di Kantor Sekretariat AJI Denpasar, di kawasan Jalan Sedap Malam, Kota Denpasar, Bali, Jumat (22/5/2026). 

TRIBUN-BALI.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, menggelar diskusi publik yang dihadiri mahasiswa, akademisi, serta para jurnalis dari berbagai organisasi di Bali.

Diskusi bertajuk,"Tantangan dan Ancaman Kebebasan Pers dan Berekspresi di Bali," digelar di Kantor Sekretariat AJI Denpasar, di kawasan Jalan Sedap Malam, Kota Denpasar, Bali, Jumat (22/5/2026).

Diskusi ini, menyoroti berbagai tantangan yang telah terjadi, dalam waktu beberapa lama ini. Terkait, semakin sempitnya ruang kritik, meningkatnya intimidasi terhadap jurnalis hingga kriminalisasi aktivis dalam beberapa tahun ini yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, dalam diskusi ini juga membahas tantangan jurnalisme di era digital yang kian tak terbendung hingga mengurangi kualitas pekerja media. Hal itu, karena dipicu masifnya pemanfaatan internet dan terjangkaunya teknologi komunikasi dan infrastruktur pendukungnya yang kian baik dan luas.

Baca juga: BERTEMU Gubernur Bali, Bali Villa Connect 2026 Sebut Masih Banyak Akomodasi Tidak Mendaftar Resmi

Baca juga: LOMBA Layang-layang ST. Sri Rama x Kenyem Lantang Kite Festival, Hadiah Uang Tunai Daftar Mulai 40K!

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana (Unud), Ni Made Ras Amanda Gelgel menilai, hari ini jurnalis dan media dalam perkembangannya memiliki banyak tantangan.

Di antaranya, kekerasan fisik kepada jurnalis lalu masifnya digitalisasi yang mengintai kerja-kerja pers hingga ruang redaksi yang harus berhimpitan dengan kemandirian media dan ekonomi.

Kemudian, otokritik kepada jurnalis agar mengembangkan daya kritis di era Artificial Intelligence (AI) dan menghadapi kebijakan negara yang tidak berpihak pada jurnalisme.

Untuk, penggunaan aplikasi AI kendati bisa lebih efesien tetapi bila terlalu bergantung pada AI tanpa verifikasi manusia, berisiko menurunkan, kredibilitas, akurasi dan etika dalam jurnalisme.

Selain itu, dampak dari AI saat ini di ruang di ruang redaksi tidak perlu banyak menggunakan pekerja media yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. "AI jadi PR karena banyak yang terindikasi menggunakan AI," tegas Ras Amanda.

Masifnya media sosial lewat sistem yang menekankan kepada iklan, algoritma dan viralitas membuat finansial di media pemberitaan semakin rapuh. Hal itu, tentu berdampak kepada kesejahteraan para jurnalis yang dituntut idealis, berkualitas dan memiliki integritas.

"Hal ini menjadi dilema di teman-teman media, (tentang) kesejahteraan dan tetap berdiri untuk idealisme," ungkapnya. Tak sampai di sana, daya kritis para jurnalis juga berpotensi terkikis karena kedekatan dengan kekuasaan dan hanya menerima rilis yang dikeluarkan pemerintah tanpa melakukan verifikasi data.

"Daya kritis menurun karena rilis dan tidak verifikasi data. Praktik yang terjadi media terlalu dekat kekuasaan," jelasnya. Sementara, Kepala Bidang Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, Ignatius Rhadite menerangkan, kondisi pengekangan berekspresi terutama bagi para aktivis yang terjadi di 2025 dan kebebasan pers yang semakin memprihatinkan.

"Banyak pengkondisian dari berbagai jalur, otoritarianisme semakin menguat. Saat ini, kebebasan pers memperihatinkan," ucap Rhadite. Ia memaparkan, kekerasan hingga kriminalisasi kepada para aktivis meningkat signifikan.

Dari data yang dijabarkan di Bulan Agustus-September 2025, terdapat 6.719 massa aksi yang melakukan unjuk rasa ditangkap. Dari jumlah itu, 959 massa aksi ditetapkan menjadi tersangka. "Untuk kekerasan jurnalis meningkat. AJI Indonesia mencatat di 2025 ada 89 tindakan kekerasan terhadap jurnalis. Dan 22 teror intimidasi kepada jurnalis," ujarnya.

Selain itu, LBH Pers meluncurkan Annual Report tahun 2025 sebagai laporan situasi kebebasan pers. Dalam catatannya, ada 96 peristiwa kekerasan  dengan angka sekitar 146 korban dari unsur jurnalis, media, narasumber dan pers mahasiswa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved