Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Wawancara Eksklusif

GUS Man Enggan Disebut Maestro Ogoh-ogoh, Simak Wawancara Khusus Bersama Tribun Bali 

Sosok Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam atau Gus Man Surya, dikenal sebagai salah seniman Ogoh-ogoh dari Tampaksiring, Gianyar.

Tayang:
Tribun Bali/Made Oka Putra Yasa
Wawancara eksklusif Tribun Bali dan Gus Man di Tampaksiring. 

TRIBUN-BALI.COM - Sosok Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam atau Gus Man Surya, dikenal sebagai salah seniman Ogoh-ogoh dari Tampaksiring, Gianyar.

Karya-karyanya setiap tahun selalu fenomenal. Bahkan dia disebut-sebut sebagai maestro Ogoh-ogoh.

Bagaimana sosok Gus Man dan filosofinya dalam berkarya?

Apa dirinya sudah layak dijuluki maestro? 

Berikut wawancara eksklusif Tribun Bali bersama Gus Man di kediamannya, Banjar Kelodan, Tampaksiring, Senin 23 Maret 2026. Petikannya: 


Saya ingin lebih mengenal sosok seorang Gusman sebagai maestro Ogoh-Ogoh. Gusman sejak kapan menekuni seni Ogoh-ogoh?

Saya sejak kecil sudah mengenal Ogoh-ogoh, dari umur SD. Saat SMP sudah mencoba untuk membuat Ogoh-ogoh sendiri, tapi sifatnya nugtug.

Kebetulan kakak tiang juga salah satu kreator ogoh-ogoh yang sangat luar biasa, juga lingkungan-lingkungan. Jadi tiang berusaha juga belajar dari mereka, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Kebetulan diberikan kesempatan di STT untuk menjadi kreator ogoh-ogoh. Kalau tidak salah sekitar tahun 2014 atau 2015. Akhirnya itu menjadi sebuah kesempatan yang luar biasa. Bagaimana kita bisa menjalin komunikasi, persaudaraan. Ogoh-ogoh menjadi ajang menyama braya. 

Tapi Gusman sendiri memang hobi membuat Ogoh-Ogoh dan punya darah seni?

Ya hobi juga. Tiang juga sempat mengenyam pendidikan di dunia seni. Saya di ISI Denpasar lulus tahun 2015 ambil seni rupa. Tapi kalau di pendidikan tidak menjurus ke ogoh-ogoh. Yang sifatnya masih seni murni, seni secara global. 

Apa yang menjadi filosofi dari Gusman dalam berkarya, khususnya ogoh-ogoh?

Filosofi yang paling mendalam dalam seni ogoh-ogoh, sebenarnya berkarya seikhlas dan setotalitas mungkin. Mau orang suka atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting kita berkarya secara maksimal.

Loyalitas yang tinggi, itu yang paling penting. Jangan mikirkan sesuatu yang aneh-aneh. Ikhlas dan tulus. Di Bali itu kan mengenali bahasa ayah-ayahan, ikhlas dan tulus. Nanti segala sesuatunya itu pasti akan berjalan baik dan lancer.

Itu pula yang menjadi identitas seorang Gusman dalam berkarya?

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved