Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

LSD di Bali

KASUS LSD Sebabkan 6 Desa Lockdown, 28 Ekor Sapi di Jembrana Kena, 4 Ekor Sapi Mati, Simak Beritanya

Hal ini karena ditemukan kasus penyakit Lumpy Skin Desease (LSD) atau penyakit kulit benjol ditemukan pada ternak sapi.

Tayang:
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
PASAR BERINGKIT - Sejumlah sapi yang akan dijual di Pasar Hewan Beringkit, Kabupaten Badung, Rabu (14/1). 

TRIBUN-BALI.COM – Sebanyak enam desa/kelurahan di Kabupaten Jembrana sementara dikarantina alias lockdown.

Hal ini karena ditemukan kasus penyakit Lumpy Skin Desease (LSD) atau penyakit kulit benjol ditemukan pada ternak sapi. Kasus tersebut sesuai dengan adanya sampel positif dari hasil laboratorium. 

Total, sebanyak 28 ekor sapi di Kabupaten Jembrana terjangkit penyakit LSD. Bahkan 4 ekor di antaranya dinyatakan mati. Ini menjadi kasus pertama di Bali karena sebelumnya Bali zero LSD.

Menurut data yang dihimpun Tribun Bali, dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, total sampel ternak sapi yang positif LSD disebutkan sebanyak dua ekor.

Sampel tersebut berasal dari dua wilayah yakni Desa Baluk dan Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Namun, ada puluhan sapi lainnya yang juga suspek LSD dan perlu pengawasan.

Baca juga: TAHUN Ini Targetkan Perbaikan RTLH 421 Unit, Wabup Supriatna Serahkan Bantuan RTLH ke Warga Tajun

Baca juga: KASUS Tabrak Lari Tewaskan Aipda Sudi di Buleleng, Pelaku Heru Diganjar Penjara 1 Tahun 2 Bulan


PENDATAAN - Petugas Medikvet saat melakukan pendataan, pemantauan serta spraying/penyemprotan insektisida dan desinfektan pada ternak sapi milik warga di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Selasa-Rabu (13-14/1).
PENDATAAN - Petugas Medikvet saat melakukan pendataan, pemantauan serta spraying/penyemprotan insektisida dan desinfektan pada ternak sapi milik warga di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Selasa-Rabu (13-14/1). (ISTIMEWA)

Sementara, total ada enam wilayah yang sementara dikarantina alias lockdown untuk membatasi mobilitas ternak atau mencegah penularan.

Yakni empat desa dan satu kelurahan di Kecamatan Negara serta satu desa di Kecamatan Melaya. Artinya, seluruh ternak milik warga di wilayah tersebut untuk sementara tidak boleh keluar dan dilakukan pengawasan oleh petugas.

“Ini jadi kasus pertama (LSD) di Bali, karena sebelumnya Bali bebas LSD," ungkap Kabid Peternakan, Keswan-Kesmavet, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Putu Sugiarta saat dikonfirmasi, Rabu 14 Januari 2026. 

Dia menyebutkan, kasus ini juga menjadi perhatian serius pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Sesuai hasil rapat koordinasi dengan Pemprov Bali dengan Pemkab Jembrana terkait penanganan LSD, sejumlah desa/kelurahan terpaksa ditetapkan Lockdown sementara.

Selain itu juga melakukan langkah pengendalian dengan penerapan zona. Ada tiga zona yang ditetapkan untuk wilayah Jembrana. Yakni zona tertular bagi wilayah yang terdapat kasus positif LSD, zona kontrol untuk kawasan terdekat dari ditemukannya kasus dan zona surveilan untuk pengawasan lebih luas. 

Di sisi lain, juga disarankan melakukan pemotongan bersyarat terhadap 27 ekor ternak di enam desa/kelurahan yang sudah tertular. Fokus petugas Medikvet saat ini melakukan pendataan, pemantauan serta menyarankan peternak melakukan spraying insektisida dan desinfektan sebagai upaya kontrol vektor seperti nyamuk dan lalat yang diduga menyebarkan virus tersebut.

“Pemerintah juga telah mengajukan surat ke Dirjen untuk vaksinasi darurat di zona tertular dan zona kontrol sebagai upaya antisipasi penyebaran,” kata dia.

Sebanyak lima ekor sapi dilakukan pemotongan bersyarat di Rumah Potong Hewan (RPH) Jembrana di Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, Rabu (14/1). Adalah ternak sapi warga yang terjangkit penyakit LSD. Sugiarta menjelaskan, lima ekor sapi yang dipotong bersyarat memutus rantai penyebaran. 

Soal kompensasi, pemerintah memastikan peternak pemilik sapi tersebut tidak akan dibuat rugi. “Saat ini ada lima ekor dulu (pemotongan bersyarat), nanti akan bertahap dengan tujuannya menuturkan rantai penyebaran (LSD). Karena total ada 28 ekor yang terjangkit,” jelas Sugiarta. 

“Untuk ganti rugi, kita pastikan peternak diberikan semacam kompensasi sesuai dengan pasaran harga sapi saat ini,” imbuhnya. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved