Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

Lima Potensi Jembrana Diusulkan Jadi WBTB 2026, Jaje Bendu hingga Bahasa Melayu Loloan

Lima Potensi Jembrana Diusulkan Jadi WBTB 2026, Jaje Bendu hingga Bahasa Melayu Loloan

Tayang:
Tribun Bali/istimewa
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana mengusulkan lima potensi Gumi Makepung menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) di tahun ini.

Jumlah tersebut bertambah dua potensi dari sebelumnya karena ketentuan baru dari pemerintah pusat. Sementara hingga 2025 kemarin, tercatat Jembrana sudah memiliki 10 karya budaya yang ditetapkan WBTB dari Kementrian Kebudayaan. 

Menurut data yang berhasil diperoleh, lima usulan WBTB tersebut diantaranya adalah Arja Sewagati, Angklung Reyong, Jaje Bendu, Arisan Dedara (Merpati) serta Bahasa Melayu Loloan.

Yang menarik diusulkan adalah Bahasa Melayu Loloan. Bahasa ini sendiri mulai digunakan sejak para pendatang tersebut menetap yakni sekitar awal abad ke-18.

Bahasa Melayu Loloan adalah bahasa minoritas yang unik di Jembrana, Bali, yang bertahan sebagai lambang identitas dan solidaritas komunitas muslim multilingual. 

Baca juga: Ratusan Napi di Lapas Negara Diusulkan Terima Remisi Hari Raya, Pengurangan 15 Hari hingga 2 Bulan

Kekhasan bahasa ini terletak pada pengaruh Bahasa Bali dan Arab, yang terlihat jelas pada logat (bunyi "e" di akhir kata) dan kosakata.

Bahasa ini langsung menjadi alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam perdagangan dan kegiatan keagamaan zaman dulu hingga sekarang. 

Pada mulanya Bahasa Melayu Loloan lebih dikenal oleh para pendahulunya dengan sebutan “Omong Kampung” sesuai dengan nama tempat tinggalnya. Selanjutnya, Bahasa Melayu Loloan berfungsi sebagai lambang identitas masyarakat Loloan dan digunakan sebagai alat komunikasi sehar-hari di lingkungannya yang kemudian mengalami perkembangan hingga saat ini.

Baca juga: Kecelakaan Beruntun di PKB Klungkung, Pelajar Dilarikan ke RS, Berawal dari Mobil Putar Balik

"Kami terus menginventarisasi potensi yang ada. Tahun ini ada lima potensi yang diusulkan jadi WBTB," jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara saat dikonfirmasi, Selasa 10 Maret 2026.


Dia melanjutkan, ketika sudah masuk dalam data Ceraken Kebudayaan Bali, pihaknya melakukan kajian yang mana saja memungkinkan untuk diusulkan. Kemudian prosesnya juga cukup ketat karena selain karya fisik, narasumber yang kompeten juga harus tersedia untuk memberikan penjelasan mendalam. 


"Jadi sebelumnya ada tiga untuk tahun ini. Karena ada ketentuan baru dari pusat, kita mengusulkan tambahan lagi dua yakni Jaje Bendu dan Arisan Dedara," ungkapnya. 


Sapta Negara menambahkan, meski proses ini dilakukan secara mandiri (non-budget) dan tidak teralokasi khusus dalam DPA, pihaknya tetap berkomitmen penuh. Disparbud Jembrana juga menggandeng tim eksternal dari Balai Pelestarian Kebudayaan untuk membantu penyusunan naskah akademik dan pencarian narasumber ahli.


"Kita juga melibatkan tim eksternal, namanya Balai Pelestarian Kebudayaan. Ini juga membantu mencarikan narasumber untuk membuatkan naskah akademik, karena kemampuan kita juga akan terbatas," ujarnya.


Untuk diketahui, dua karya budaya khas Bumi Makepung, yakni busana pengantin Payas Dirga dan Kain Tenun Loloan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan.


Penetapan ini tertuang dalam sertifikat resmi dengan nomor registrasi 034/WB/KB.00.01/2025 untuk Payas Dirga dan 035/WB/KB.00.01/2025 untuk Kain Tenun Loloan. Dengan tambahan dua karya ini, hingga tahun 2025 total sebanyak 10 budaya asal Jembrana telah tercatat sebagai warisan budaya nasional yang dilindungi.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved