Berita Karangasem
Filosofi Tanggung Jawab dan Kebersamaan Dalam Perang Pandan Tenganan
Tradisi mekare-kare atau perang pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, kembali digelar pada Rabu (10/6/2026)
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Tradisi mekare-kare atau perang pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, kembali digelar pada Rabu (10/6/2026).
Di balik atraksi saling menyerang menggunakan ikatan daun pandan berduri yang menarik perhatian wisatawan, tradisi ini ternyata menyimpan makna mendalam tentang tanggung jawab, keberanian, dan kebersamaan generasi muda desa adat.
Perang pandan merupakan bagian dari rangkaian Usaba Sambah, upacara adat tahunan masyarakat Tenganan Pegringsingan. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada Dewa Indra yang dipercaya sebagai dewa perang dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Baca juga: TRAGIS, Suami di Jembrana Nekat Ulah Pati Dihadapan Istri dan Anak, Terungkap Pemicunya
Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana menjelaskan, perang pandan yang ditampilkan bukanlah bentuk permusuhan. Sebaliknya, tradisi tersebut menunjukan remaja laki-laki tentang peran mereka kelak sebagai penanggung jawab keluarga dan desa.
"Perang ini bukan melawan musuh. Ini merupakan simbol penghormatan kepada Dewa Indra sekaligus pembelajaran bagi generasi muda tentang tanggung jawab yang akan mereka emban di masa depan," ujarnya.
Baca juga: Denpasar Tak Aman? Komplotan Begal Beraksi di Renon, Korban Dianiaya Secara Brutal
Rangkaian tradisi sebenarnya telah dimulai sejak pagi hari. Para remaja putra dan putri terlebih dahulu mendaki bukit di wilayah desa untuk menghaturkan kelapa muda sebagai bagian dari ritual adat.
Setelah itu, para pemuda bertugas mencari daun pandan yang akan digunakan dalam perang pandan. Sementara para remaja putri menyiapkan boreh, ramuan tradisional yang digunakan untuk mengobati luka para peserta setelah tradisi berlangsung.
Menurut Yudiana, penggunaan boreh telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya masyarakat setempat. Ramuan tersebut dioleskan pada luka akibat duri pandan yang mengenai tubuh peserta selama prosesi berlangsung.
Tradisi perang pandan diikuti oleh peserta dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tidak hanya warga Desa Tenganan Pegringsingan, masyarakat luar desa bahkan wisatawan juga diperbolehkan ikut merasakan pengalaman tersebut.
Meski selama prosesi para peserta saling menyerang menggunakan daun pandan berduri dan tameng rotan, suasana berubah setelah tradisi selesai. Seluruh peserta saling merangkul tanpa menyisakan konflik, lalu melanjutkan kegiatan megibung atau makan bersama sebagai simbol persaudaraan.
"Setelah perang selesai tidak ada dendam. Semua peserta kembali berkumpul dan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan," kata Yudiana.
Tahun ini, tradisi perang pandan kembali menjadi bagian dari Tenganan Pegringsingan Culture Festival. Pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan ritual adat, tetapi juga menikmati berbagai sajian kuliner dan hiburan yang disiapkan selama festival berlangsung. (mit)
| Tantangan Karangasem Biasakan Masyarakat Pilah Sampah Dari Rumah |
|
|---|
| Maling Ternak di Karangasem Ditangkap, Selain Sapi Juga Curi Babi |
|
|---|
| Pencuri Sapi di Karangasem Bali Ditangkap usai Resahkan Warga, Ternyata Juga Gasak Babi |
|
|---|
| Kado Istimewa Jelang HUT ke-386 Kota Amlapura, Karangasem Bali Kembali Raih Opini WTP |
|
|---|
| Sentra Tenun Trisna Lestarikan Endek Sidemen Bali dan Dukung Pariwisata Desa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Tradisi-perang-pandan-atau-mekare-kare-dalam-rangkaian-Usaba-Sambah-di-Karangasem.jpg)