Seniman Bali
Seniman Klungkung Ciptakan Gamelan dari Sampah Plastik
Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan dan semakin berkurangnya ketersediaan kayu sebagai bahan baku seni
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Meski teknik permainannya tetap sama, ia sengaja mengambil pendekatan tersebut sebagai ruang inovasi.
“Saya sempat khawatir kalau langsung membawa nada tradisional ke media baru berbahan sampah plastik. Akhirnya saya mencari jalan tengah dengan menggunakan sistem tanga nada yang sedikit lebih modern,” jelasnya.
Saat ini, Bayu telah berhasil menyelesaikan satu barung atau satu set gamelan selonding berbahan plastik daur ulang. Untuk mewujudkannya, ia menghabiskan sekitar 15 lembar papan plastik hasil daur ulang dan dalam satu prangkat gamelannya ia berhasil mengolah sekitar 80kg sampah plastik dan masih banyak karya seni berbahan plastik bekas lainnya sedang dalam tahap proses pengerjaan.
Melalui platform bertajuk “Plastic for Art” yang digagasnya sejak tahun lalu, Bayu berharap semakin banyak seniman yang mulai melihat sampah plastik sebagai media ekspresi seni yang bernilai sehingga mempunyai daya guna kembali.
Ia juga berencana mengembangkan berbagai karya lain dengan menggantikan unsur-unsur kayu menggunakan material daur ulang.
“Tanpa bermaksud membanding-bandingkan karya seni lainnya, saya ingin mencoba mengajak seniman ikut memikirkan kondisi alam. Sampah plastik yang selama ini dianggap masalah sebenarnya bisa menjadi media seni yang bermanfaat,” katanya.
"Saya mempunyai prinsip yaitu seni yang baik adalah seni yang bermanfaat untuk kehidupan,” ujarnya.
Bayu mengatkaan, perangkat yang saat ini telah rampung yaitu gamelam selonding berbahan sampah plastik daur ulang yang dibuatnya merupakan yang pertama di Indonesia.
Ke depan, ia memiliki misi menjadikan seluruh komponen gamelan, termasuk bilahnya, berbahan plastik daur ulang sehingga penggunaan material konvensional bisa semakin diminimalkan.
Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan. Menurutnya, kekuatan material plastik daur ulang sudah terbukti sangat baik, namun inovasi terhadap seluruh komponen masih membutuhkan riset dan dukungan pendanaan.
Karya yang rampung bertepatan dengan perayaan Tumpek Uduh tersebut lahir berkat dukungan banyak pihak, mulai dari Rumah Plastik Mandiri Buleleng yang menyediakan material daur ulang, teman-seniman yang seiman, hingga dukungan penuh dari sang istri yang terus mendampingi proses kreatifnya. (*)
Berita lainnya di Seniman Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Seniman-asal-Klungkung-I-Dewa-Gede-Bayu-Agastya-saat-memainkan-gamelan-selonding1.jpg)