Melarat di Pulau Surga
Ironisme Bali, Kemiskinan di Tengah Glamor Pariwisata
Sebanyak 70 rumah yang tidak layak huni itu, baru hasil survei kami
Jangankan merenovasi rumah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, uang sebesar itu dirasa tidak cukup.
Kepala Dusun Dinas Asah, Ketut Jana mengakui, bantuan pemerintah ke wilayahnya minim.
Bahkan, menurut Ketut Jana, bantuan perumahan dari Pemerintah Provinsi Bali yang diharapkan akan diberikan kepada keluarga miskin, hingga kini belum terealisasi.
Kini, sebagian keluarga miskin yang menghuni rumah gubuk sedikit lega. Mereka menjadi satu di antara penerima bantuan pembangunan rumah yang diadakan Cigna bekerjasama dengan Habitat for Humanity.
Mereka dibangunkan rumah sederhana dengan ukuran bervariasi, tergantung jumlah anggota keluarga yang akan mendiaminya.
Namun demikian, mereka tetap masih menghadapi persoalan, yakni sumber pendapatan.
Selama ini, menjadi buruh tani bunga Pecah Seribu kurang prospektif.
Betapa tidak, harga bunga pecah seribu per kilogram antara Rp 500 hingga Rp 15.000.
Harga bunga tidak stabil tergantung situasi.
“Harga bunga bisa anjlok hingga Rp 500 dalam keadaan stok barang sedang banyak,” kata Clareta Gozali, Bali Program Development Manager di Habitat for Humanity. (*)
Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali