Young Gen

Komunitas Anak Alam Habiskan Malam Tahun Baru dengan Anak-anak di Pantai Jemeluk

Komunitas Anak Alam merayakan tahun baru dalam kegiatan “Anak Alam New Year Camp”

Editor: gunawan
ist
Anak-anak tertawa saat foto bersama di acara Anak Alam New Year Camp di Pantai Jemeluk, Amed, Karangsem, 31 Desember 2015 – 1 Januari 2016 . 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komunitas Anak Alam merayakan tahun baru dalam kegiatan “Anak Alam New Year Camp”. Acara ini berlangsung dari 31 Desember 2015 – 1 Januari 2016 di Pantai Jemeluk, Amed, Karangsem.

I Putu Agus Julisastrawan alias Pegok mengatakan, anak-anak yang hadir di sana sudah diberitahu oleh Ketua Komunitas Anak Alam, Pande Putu Setiawan dua hari sebelum acara. Pegok bercerita, sebelum anak-anak diajak bermain, mereka belajar dulu mendirikan tenda. Mereka pun banyak yang baru tahu cara mendirikan tenda.

Dengan penuh semangat, Pegok menjelaskan anak-anak dibagi menjadi dua kelompok untuk bermain. “Ada yang lomba memasukkan air laut di dalam botol dengan tangan, lomba mencari batu merah sebanyak-banyaknya dan lomba tebak kalimat,” ungkap Pegok.

Pegok bersama rekannya Ari Rimbawan mengatakan banyak sesuatu yang menarik dari anak-anak ketika diajak bermain.

“Saat bermain tebak kalimat itu kan berjajar berbentuk barisan, satu orang diujung dibisikkan meli nasi be pindang jaen (beli nasi ikan pindang enak) malah sampai di tengah ada anak yang mengubah kalimatnya menjadi meli nasi be pindang jaen sik meme ros (beli nasi ikan pindang enak di ibu ros),” ungkap Pegok heran. Meme ros (ibu ros) itu salah satu pedagang nasi terkenal di Amed. Sontak saat itu tawa pecah dan saling ejek antar kelompok.

“Ada juga yang bisa menebak nama presiden Indonesia yaitu Joko Widodo. Tapi saat ditanya siapa nama Gubernur Bali, mereka jawab Ahok. Ha ha. Ga tau ya, anak itu benar tidak tahu atau sekedar bercanda,” imbuh Pegok yang tak henti-hentinya mengungkap kehebohan bersama anak-anak di Amed.

Tapi ada yang Pegok sayangkan saat itu anak-anak di sana lupa dengan urutan Pancasila. “Saat ditanya sila kelima malah jawabnya sila keempat, itu yang saya khawatirkan,” jelasnya lagi.

Setelah melakukan permainan, Ari, Pegok dan Pande naik ke Bukit Enjung dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit. Dari atas tampak keindahan alam laut dan matahari yang tenggelam di baik bukit. “Indah sekali,” ujar Pegok.

Nah, saat malam menjelang pergantian tahun, mereka duduk di pinggir pantai bersama dengan warga dan nelayan. Bercerita tentang kehidupan nelayan mencari ikan. Sekitar pukul 00.00 Wita, mereka naik lagi ke Bukit Enjung untuk melihat kembang api.

Keesokan harinya, anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di area kemah. “Besoknya pukul 08.00 Wita, ada sekitar 50 orang yang hadir, kami bagikan baju sekolah, alat sekolah, alat tulis dan sembako,” ungkap Pegok.

Mereka bertiga juga dibantu oleh relawan lokal yang saat itu hadir saat hari kedua. Amed memang dikenal dengan aktifitas snorkelingnya, dan kesempatan itu tak dilewatkan oleh Ari, Pegok dan Pande sebelum balik ke rumah.

Pegok mengatakan ini pertama kali merayakan tahun baru di alam bersama anak-anak. “Tahun baru itu belajar banyak dari orang-orang, karena life long learner itu harus berjalan. Saya ingin mengawali dan menutup tahun dengan berbagi,” ungkap Pegok yang juga aktif di komunitas lain ini.

Pegok sudah berkeliling Bali untuk mengajar ini mengaku resolusi 2016 ingin  membuat komunitas belajar untuk anak-anak di desanya yang bertempat di Klungkung. “Ya berkat motivasi dari Bli Pande yang harus mempertahankan (wisatawan) lokal atau wisdom, maka saya akan mengajak teman-teman membuat komunitas itu," terang Pegok yakin.

Pande Putu Setiawan mengatakan, setiap tahun memang memilih merayakan tahun baru di desa-desa. ”Dimulai tahun 2010 di Desa Belandingan, Kintamani dengan tema kembang api di atas kampung suci. Kebahagiaan besar buat mereka merayakan pergantian tahun bersama-sama kami dari pelosok,” ujarnya.

“Tahun ini kami di Pantai Jemeluk, Amed, Karangasem dengan tema Anak-Anak Kita, Alam Kita, Masa Depan Kita. Untuk mengingatkan lagi kepada diri kita sendiri dan semua orang bahwa kita harus hidup lebih bersahaja, peduli lingkungan seputar, berbagi ilmu pengetahuan,” tambahnya.(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved